Wednesday, December 15, 2010

Karengkang. Mada, Kareh Angok

Teman saya diwaktu kecil, namanya Ardian Hamdani, SH, yang bekerja sebagai sebagai staf ahli anggota Fraksi Partai Demokrat di DPR-RI sana menyebut saya “Karengkang”. Ia menyebut itu dulu waktu saya kecil, waktu kami berdua sepermainan di dekat rumah. Saya tentu saja membalas dengan sebutan khas anak kecil. Saya sebut Dhani dengan sebutan Kareh Angok.

Karengkang dan Kareh Angok itu tidak jauh bedanya, keduanya sama sama bisa diartikan sebagai keras kepala, tidak mau diajak kompromi apalagi mendengarkan masukan/kritik dari orang lain.

Dhani tentu tidak asal menyebut saya karengkang, maklum dia tahu saya lahir bathin, sejak kecil kemi berkawan, Selain, Dhani, gank kami di waktu kecil juga ada Thomas, Rony, dan Ricky. Yang terakhir sudah tidak ada kabarnya, karena memang selain dia lebih berada dari kami, orang tuanya melarang Ricky bermain dengan kami karena alas an status social pada waktu itu. Ricky orang kaya, sementara kami orang semenjana kalau tidak mau disebut miskin dan papa.

Kembali ke kata Karengkang, kami adalah anak anak karengkang itu. Namun Ke-Karengkang-an kami itulah yang membuat kami menjadi seperti ini. Dhani jadi pengacara dan staf ahli anggota DPR, Thomas jadi Fotografer handal anggota di AFP (Asosiasi Foto Penganten), Rony bekerja di Batam dan saya bekerja sebagai Wartawan.

Penggunaan kata Karengkang juga sering saya dengar dari ibu saya yang marah karena ulah saya yang agak pemalas dan membangkang. Hingga tepatlah menurut saya, penggunaan kata karengkang sangat pas untuk mempresentasikan kekesalan kita pada anak kecil yang tidak menurut perintah atau berhenti jika dilarang.

Tapi tepatkah jika kata kerengkang kita sebutkan pada orang dewasa atau orang yang sudah sepuh. Rasanya tidak, meski kadang perlu juga karena kita sudah kehabisan kata kata untuk melarang orang tua melakukan apa yang tidak sepatutnya mereka lakukan.

Terkait itu, saya jadi teringat dengan hal yang saat ini tengah terjadi di ranah minang. Bahkan di status Facebook saya beberapa waktu lalu, saya membuat quote bahwa saat ini Ranah Minang sudah berubah menjadi ranah pertempuran antara orang tua karengkang melawan anak - anak muda nakal. Kenapa saya tulis seperti itu. Karena saat ini tengah marak terjadinya penolakan pelaksanaan Kongres Kebudayaan Minangkabau (KKM) yang digagas oleh Gebu Minang yang sudah sejak berbulan lalu ditolak oleh masyarakat melalui elemen elemennya seprerti LKAAM, Bundo Kanduang, DKSB, dan bahkan media juga member porsi yang berlebih pada aksi penolakan ini.

Kongres ini tolak disana sini, di undur entah sudah berapa kali, sudah di perangin perambunkan segala, mungkin diasapkan saja yang belum, namun tetap saja Kongres akan dilaksanakan. Jika tidak didemo, Insya Allah hari ini sampai besok siang/malam akan berlangsung Seminar Kebudayaan Minangkabau di Best Western Basko Hotel di Padang. Namanya berubah dari Kongres menjadi Seminar atas izin dan kearifan Walikota Padang Dr. Fauzi Bahar. Sebab, kata Pak Wali, daripada ditolak disana sini, tak baik nanti diliat orang, jadikan sajalah Kongres itu sebagai Seminar.

Artinya, kita tidak perlu membuat resolusi atau keputusan yang mengikat, namun cukup semacam membuka wacana dan membuat rekomendasi saja untuk kemudian diserahkan pada lembaga berwenang. Sebab tidak ada kuasa apalagi kewenangan dari sebuah LSM seperti Gebu Minang untuk menghasilkan resolusi yang mengatur kehidupan dan tataran adat masyarakat Minangkabau.

Namun budayawan Darman Moenir dalam note di akun Facebooknya menuliskan bahwa ternyata atas informasi dari koleganya Drs. Yulizal Yunus, M.Ag, undangan acara hari ini yang tadinya berjuluk Seminar berubah menjadi Kongres. Sungguh, demi Tuhan Yang Maha Kuasa, saya heran, dan saya kembali teringat Dani yang pernah menyebut saya Karengkang dan saya balas dengan Kareh Angok.

Jika benar undangan dan acara hari ini berubah menjadi Kongres, saya mau tanya pembaca, apakah patut kita gunakan kata Karengkang untuk menyempurnakan kekesalan kita pada orang orang yang tidak mau mendengarkan kritik dan masukan. Jawab dalam hati sajalah…malu kita pada orang yang bukan Minang apalagi dia urang Sumando.***

Tulisan dikirim ke Haluan Minggu karena saya punya kolom khusus di edisi minggu Harian Haluan


mereka yang koment di FB


Femmy Sutan Bandaro
Eril Anwar
Muhammad Ibrahim Ilyas
Early Rahmawati
Ust-kj Jumin
FriendYusri Zal

Komen---->
Firdaus Hb Indak bautak !!! Ha.ha.ha...lapehkan berang tu sadono...bia lapang kapalo. Jan berang bakapanjangan sajo.
December 11 at 3:46pm · Like

Boby Lukman Piliang Heheheh...habih kato kato lai Da...paniang wak...Lai sehat Da...dima kini...
December 11 at 3:47pm · Like

Emeraldy Chatra Loro Ciek nan jadi angan2 diambo kini.Adolah handaknyo peserta kongres bersampul seminar tu nan maraso dikicuah, sudah tu mereka protes karano dianggap urang bodoh dek panitia. Kok dapek handaknyo sudah tu mereka rami-rami pai sambia malapeh kantuik sagadang-gadangnyo arah ka SC nan, kecek engku Firdaus, "indak bautak" tu.
December 11 at 3:55pm · Like

Boby Lukman Piliang Hua ha ha ha...AAAAAAAAAAAAAAMMMMMMMMMMMMMMIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINNNNNNNNNNNNNNNN.......
December 11 at 3:56pm · Like

Doni Hendri ondehhh.. alah tamakan tulang pulo gaek ko komah
December 11 at 4:10pm · Like

Doni Hendri apaknyo kan kareh ka ikua antu iyo
December 11 at 4:18pm · Like

Silvia Erfan Ganti se karengkang tu jo kerangkeng bob..wkwkwkwk
December 11 at 4:38pm · Like

Nofend DeMarola Lare alah ambo jawab dalam hati sidi, sasuai saran sidi, tapi sidi kalah nampek e...
kwakakakaa
December 11 at 5:14pm · Like

Hilman Satria Ko kopi paste kato2 ayah ka bobo ko? Hahahahaha
December 11 at 5:47pm · Like

Asraferi Sabri ‎@Bob: Indak pernah awak bapikia bisanyo urang2 tu melakukan sesuatu yang tidak lain adalah menipu. bahaso urang awaknyo; mangicuah. Kalau karengkang atau kareh kapalo, masih bisa dipahami, tapi mangicuah di siang hari bolong, iyo indak tau awak ilmu apo nan dipakai urang2 tu.
December 11 at 7:01pm · Like

Muhammad Ruski emang angku karengkang, kareh angok bo.. tapi itulah diri kito dan peniggalan urang gaek salai warisan harto pusakao..
December 11 at 9:08pm · Like

Silfia Hanani Syafei Iya, si bobby LP, mada. Terutama gelitik penanya yang "nakal" kalau tidak mada "gelitik" penanya tidak akan di dengar, karengka paralu kawan
Sunday at 8:36am · Like

Ardian Hamdani bagi2lah honor tulisan Bob..namo kito basabuik di dalam tu mah..:)
Monday at 12:24pm ·












Wednesday, December 8, 2010

Antara Obama Jr, Gayus Tambunan dan Cinta Laura

Minggu ini, kita dibuat heboh oleh dua berita besar, menggemparkan, menyedihkan sekaligus mengharu biru. Saya sebut menggemparkan karena terbitnya beberapa foto di Koran Kompas yang memuat gambar seseorang yang sangat mirip dengan Gayus H Tambunan seorang pegawai Ditjen Pajak Kemenkeu tengah nyengir nonton pertandingan tenis WTA di Nusa Dua Bali.

Terbitnya foto foto itu tidak saja menyentak kita sebagai orang Indonesia yang tengah berada pada titik terendah dalam sejarah kepercayaan pada penegakkan hukum, namun juga menggelikan, dan membuat amarah memuncak (meski tidak sampai pada dorongan berbuat anarkis).

Gayus entah siapapun dia yang ada dalam foto itu, yang pasti dia telah berhasil membuat kita semakin sadar bahwa ada yang tidak beres di negara ini dan tentu saja kita menuntut "pemberesan" secepatnya dan dalam waktu yang sesingkat singkatnya. Tercatat pemberitaan tentang seseorang yang amat sangat mirip Gayus ini menyita perhatian kita.

Sosok lain minggu ini yang begitu menyita perhatian media adalah Barrack "Barry" Husein Obama Jr. Presiden Amerika Serikat yang ke 44 ini begitu lekat dalam ingatan orang Indonesia, pun sebaliknya, Obama seperti yang diakuinya adalah bagian dari republik ini. "Indonesia adalah bagian dari hidup saya," begitu kata Obama dalam pidatonya di Balairung Kampus UI Depok Kamis lalu. Obama dengan bahasa Indonesia yang masih lancar dan amat bersemangat berpidato dan tentang masa depan hubungan dan kerjasama Indonesia dengan negara yang dipimpinnya. Obama sekali lagi merasuki ruang ruang baca dan bahkan pribadi kita setelah pada tahun 2008 lalu menghentikan perlawanan John McCain seorang Republikan pada Pilpres AS.

Obama dan Gayus adalah dua kutub pemberitaan yang amat jauh berbeda, yang satu menjadi cerita dan buah pena kaum jurnalis karena kehebatannya dalam mengelola opini publik di bidang politik, yang satu lagi menjadi buah cerita dan pena karena "kehebatannya" menumpuk kekayaan hingga puluhan miliar rupiah di usia yang masih sangat muda. Obama dan Gayus telah menjadi ikon pemberitaan dan fenomenal di dunianya masing masing.

Obama Jr, seorang ayah dua putri, pemimpin negara adidaya, kehadirannya di tunggu publik sejak lama, setidaknya dua kali meng-cancel kunjungan ke Indoneisa dan dimaafkan, adalah bukti bahwa kedatangannya (kembali) ke Indonesia amat penting artinya. Beda dengan Bush Jr, pendahulu Obama, kedatangan Barry yang lengkap dengan keramahannya dan juga "Ke-Indonesia-anya membuat kita tertawa lepas, senang dan juga terharu (maupun pura pura) bahwa ia masih sedikit Indonesia. Obama bahkan memakan bakso, sate, kerupuk emping dan mengenang Sarinah dan Menteng Dalam untuk membuktikan itu bahwa ia masih menjadi bagian dari anak Jakarte. kita bangga dan bertepuk senang karenanya.

Lain halnya dengan Gayus, lengkapnya Gayus Halomoan Tambunan, anak muda yang sekilas terlihat cengengesan, tapi kaya raya itu telah membuat kita geram, marah dan begitu benci tidak hanya kepadanya, tapi juga kepada pengelola negara ini. Gayus telah menjungkir balikkan semua kepercayaan kita yang memang telah miring kepada aparat hukum, penyelenggara negara lainnya. Gayus juga telah meruntuhkan puing puing kepercayaan yang kita pertahankan sedemikian kuatnya, namun ia dengan menjentikkan jari meruntuhkan semuanya dalam sekejab. Kita geram dan memaki sejadi jadinya.

Sejenak marilah kita lupakan Gayus, Obama, atau duka lara akibat letusan Gunung Merapi di Jogja, Tsunami di Kabupaten Kepulauan Mentawai atau Banjir Bandang di Wasior Papua Barat, kita sejenak berpaling ke Cinta Laura. A ha, kenapa Cinta Laura, apa hubungannya antara Cinta Laura, dengan Obama, atau Gayus ?. Memang tidak ada hubungannya, Cinta Laura meski berbapak bule, bapaknya bukan American, atau ibunya bukan dari marga Tambunan seperti marga bapaknya Gayus. Cinta Laura menjadi menarik saya bahas karena Obama Jr.

Ya, Presiden AS yang anak Menteng Dalam itu begitu fasih berbahasa Indonesia, ucapannya seperti "Assalamualaikum", "Selamat Pagi", "Selamat Sore", "Terima kasih" dan bahkan "Pulang Kampung Nich" atau "Indonesia adalah bagian dari diri saya", dan tentu saja kalimat pamungkas, "Saya ingin mengungkapkan", memperlihatkan betapa ia masih Indonesian meski menjadi Presiden bagi jutaan anak kemenakan "Abang Sam".

Obama tidak seperti Cinta Laura yang dengan pronounce-nya terdengar aneh di telinga kita. Taruhan, jika Obama kita suruh bertanding pidato dalam bahasa Indonesia melawan Cinta Laura, saya yakin Obama lebih lancar berbahasa Indonesia dibanding si artis kemarin sore itu.

Lihat dan dengarkan suara Cinta Laura di TV, atau suaranya ketika menyanyi, awww, aneh benar bunyinya. Saya hanya berdoa semoga Cinta Laura mendapatkan guru bahasa Indonesia yang top dan hebat dan bukan guru bahasa Inggris yang pandir dan sok british. Semoga.

Sejenak saya juga merasa risih dengan sebagian besar kawan kawan yang saya jumpai, berbicara dalam bahasa Indonesia yang diselingi beberapa kosa kata Inggris, mereka menggunakan kata "at least", "I beg your pardon" atau kata kata lain yang tentu saja diucapkan dengan lidah melayu yang dipaksa berbahasa Inggris. Menangis rasanya jika mengingat itu.

Sok benarlah kita rasanya, orang Indonesia, berbicara dalam bahasa Inggris kepada sesama orang Indonesia. Semoga kita tetap menjadi orang Indonesia dalam keseharian kita yang dibuktikan dengan tingkah laku dan pola bicara.

Semoga para pemuda yang bersumpah pada 28 Oktober di tahun 1928 lalu di gedung Stovia tidak mengutuk kita karena sok British seperti ini. Amiin.

Sinetron...



Suatu hari sambil bagarah saya katakan pada istri saya, saya akan mengundang ustad dan jemaah masjid di dekat rumah untuk mau datang kerumah kami besok malam seusai Shalat Isya. “Saya mau mandoa salamaik”, itu yang saya katakan pada istri saya. Ia heran bukan kepalang, lalu dengan muka wajah serius dia bertanya kepada saya, selamatan untuk apa, memangnya saya dapat proyek baru atau berhasil, atau ada keuntungan lain hingga kita perlu menggelar selamatan. Saya langsung menjawab Selamatan atas berhentinya tayang sinetron yang tiap hari ditunggu dan ditontonya.

Yah, istri saya sangat menyukai sinetron, opera sabun yang bagi saya aneh, irasional dan tentu saja mengada-ada. Kami bahkan sampai berebut remote TV kalau sudah masuk pada jam tayang sinetron itu. Saya menyukai menonton siaran berita, talkshow atau dialog, sementara istri saya hampir setiap malam tidak mau melewatkan tayangan sinetron di tv swasta kesayanganya.

Kembali ke soal sinetron, saya sungguh tidak mengerti, apa yang ada dikepala penulis skenario atau mungkin produsernya, tayang setiap hari,tapi tidak ada satupun poin dari sinetron itu yang bisa dijadikan bahan untuk dicontoh, atau tokohnya dijadikan tauladan atau apa sajalah. Cuma ya itu tadi, selalu saja penontonnya ramai, bahkan hasil poling ACNielsen (lembaga pemeringkat siaran TV) yang saban Rabu sore merilis hasil polingnya menyebutkan sinetron yang sering ditonton oleh istri saya dan orang lain itu menempati peringkat yang cukup tinggi dengan audience share yang cukup tingi.

Saya tidak hendak dan tidak akan menyebutkan judul sinetron itu, takut saya, karena pasti banyak yang akan marah. Maklumlah, survey kecil kecilan saya di sekitar rumah membuktikan bahwa 7 dari 10 ibu ibu menjadi penonton sinetron itu setiap hari dan hanya 3 yang menonton sambil tidur tiduran. Jadi, jelas saya tidak mau digebuk 7 orang ibu ibu yang amat bernafsu untuk mengantam saya dan 3 orang yang ogah ogahan tadi. Alamat sengsara saya kalau itu terjadi.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan sinetron, dulu ketika TV swasta belum ada, TVRI sudah pula menyiarkan sinetron, saya ingat judulnya, “JENDELA RUMAH KITA” atau “RUMAH MASA DEPAN” tapi tidak setiap hari, hanya sekali sepekan dan ceritanya sangat bermutu. Memang ada tokoh jahat, ada pula tokoh baik hati, ada tokoh yang mengalasau se lalu ada pula tokoh yang serius.

Tapi kini dengan banyaknya TV swasta dimana hanya 2 stasiun TV yang mengklaim sebagai TV berita, maka maraklah ruang ruang keluarga kita dengan tayangan sineteron itu. Judulnya, jangan ditanya, bamacam, mulai dari yang pakai bahasa Indonesia, sampai yang sakarek ula sakarek baluik. Bahkan kalau kita akumulasikan jam per jam tayangan sinetron di televise swasta kita, mungkin lebih dari 80 persen tayangan adalah sinetron dan sisanya musik serta hanya kurang dari 10 persen yang bermuatan informasi pengetahuan.

Saya jadi ingat dengan Sinetron Rumah Masa Depan yang digarap oleh sutradara Ali Sahab. Seorang pekerja film jempolan yang mampu menghadirkan tontotan berkualitas bagi masyarakat meski hanya sekali dalam sepekan. Rumah Masa Depan, judulnya memang seperti mimpi, tapi isinya adalah kenyataan yang terjadi disekitar kita. Skenario yang membumi, tokoh yang tidak (sangat) kejam, meski jahat, namun tidak pula ada tokoh yang sangat baik meski berhati mulia.

Tapi lihatlah sinetron saat ini, peran orang jahat digambarkan sangat kejam, bahkan cenderung psikopat, lalu tokoh baiknya, digambarkan selalu teraniaya, kalah melulu dan menangis terus. Sinetron saat ini seperti mimpi, kekayaan tokohnya digambarkan sangat besar, perusahaan dimana mana tanpa dijelaskan kekayaan itu (perusahaan) berupa dan bergerak dibidang apa serta yang disajikan justru konflik perebutan harta tanpa jelas harta apa yang dijadikan obyek pertengkaran.

Saya jadi berpikir, dengan kemajuan zaman, mudahnya mengakses informasi serta ruang ruang diskusi yang kian terbuka lebar, kenapa kreatifitas kita makin rendah mutunya. Hari ini, setidaknya saya mendapatkan jawaban bahwa nafsu untuk berbuat telah mematikan urat kreatif kita dan yang tinggal hanya rutinitas kejar tayang.

Jadi kalau tidak bisa membeli mimpi menjadi orang kaya, baik hati dan pemaaf, maka buatlah sinetron sebanyak banyaknya, karena mimpi jauh lebih enak daripada bangun dan melihat kenyataan. Sakit.***

---terbit di HARIAN HALUAN Padang - edisi Minggu 5 Desember 2010---

Sia Sia



Di ujung waktu...
pada waktu yang telah kita sepakati...
aku mengais sisa hadirmu...
sia sia...
tak berdaya...

(BLP - Jogja 2010)

Friday, November 5, 2010

Surat Untuk Rara #2

Ra, lama rasanya tidak menulis tentangmu lagi nak. Kadang aku berpikir untuk apa menulis surat, tokh kau belum bisa membaca. Sehari-hari kulihat kau hanya membalik balik buku cerita bergambar, namun kau pasti tidak tahu apa arti tulisandibawah gambar itu.

Gadis kecilku yang cantik. Waktu terus berjalan nak, kau kian tumbuh besar, makin nakal, makin lincah dan juga makin bisa ndwut. Lucu sekali melihatmu saat ini. Tuhan memberkatimu gadis kecil. Meski kadang nggak tega melihat bundamu mulai kewalahan saat kau berontak dan mengamuk, namun aku membiarkannya karena duniamu adalah kebebasan dan bukan larangan ini/itu yang mengekang semua keinginanmu.

Ra, meski kau tidak bisa membaca, namun aku ingin tetap menulis sesuatu, besar harapanku saat kau bisa membaca nanti, atau saat kau bisa memahami arti kasih sayang, kau akan tahu betapa kasih dan sayang kami tertumpah padamu.

Nak, aku ingin bercerita sesuatu padamu. Mungkin ini lucu bagi sebagian orang, tapi sumpah, ini menakutkan bagiku saat itu dan kalau ku ingat aku jadi merasa berdosa pada nenekmu. Begini sayangku, dulu waktu usiaku masuk lima tahun, ibuku memasukkan aku ke sebuah taman kanak kanak di dekat rumah di Padang. namanya Taman Kanak Kanak Bhayangkari. Sepengetahuanku itu taman kanak kanak yang dikelola oleh istri polisi, entah kalau salah, yang aku tahu sekolah itu berada di komplek asrama polisi dan kebanyakan teman sekolahku bapaknya polisi.

Jujur aku tidak tahu kenapa, nenekmu mempercayakan pendidikan kanak kanak kami ke sekolah itu, padahal nenekmu pegawai negeri, dia guru. Semestinya aku disekolahkan di TK Pertiwi, namun demikian aku tidak pernah protes atas keputusan itu, aku fine fine saja.

Petualanganku dimulai Nak, bertemu banyak teman, tidak hanya Thomas Anderson,Ardian Hamdani, Paul, atau Rony saja, menyebalkan bertemu mereka tiap hari dirumah, di sekolah aku mengenal Miko, Rizky dan banyak lainnya. Tapi Tuhanmemberiku cobaan yang teramat berat.

Dia mempertemukanku dengan Bu Mien. Aku tidak tahu nama Bu Mien, panjangnya apa, entah Mience, entah Sutimin, entahlah, yang aku tahu dia kepala sekolah di TKitu, badanya besar, teramat besar, namun suaranya dan sikapnya pada kami sangat bertolak belakang dengan namanya. Ia sangat lembut dan penyayang.

Bu Mien ke sekolah memakai Vespa Sprint persis seperti punya kakekmu. Untukukuran tahun itu, Vespa adalah kendaraan setara Honda Revo saat ini. Cuma bedanya Vespa lebih serbaguna dan berkapasitas besar. Aku pernah merasakan manfaat Vespa itu, saat Bu Mien dengan nekat mengantar pulang delapan anak anak denganvespanya. Bisa kau bayangkan gadisku, bagaimana vespa sekecil itu mampu membawa delapan anak anak nakal dan sumringah, tapi sungguh Bu Mien manusia yang tangkas dan baik hati.

Nak, jauh di dalam hatiku, aku menyimpan ketakutan yang amat sangat pada Bu Mien. Aku tidak takut dimarahi, karena aku yakin dia tidak pernah marah senakal apapun kami di sekolah, tapi aku takut karena badannya yang besar.

Aku bahkan pernah bersembunyi dibawah tempat tidur nenekmu karena tidak mau berangkat ke sekolah. Karena kalau berangkat ke sekolah, resiko paling tinggi yang akan aku alami adalah "aku akan bertemu Bu Mien".

Kemarin, sesaat setelah sampai lagi di Padang, aku melihat papan nama sekolah itu di jalan raya dekat rumah kita. Ingatanku melayang ke masa lalu, dan tentu saja pada Bu Mien. Demi Tuhan gadis kecil, aku rindu masa masa dulu, tertawa, berlarian naik ayunan, main pelosotan, persis sama yang kau lakukan setiap pagi di TK Pertiwi dekat rumah nenekmu di kampung saat ikut serta mengantar Huda ke sekolah. Guru guru menolakmu jadi muridnya, karena usiamu belum usia TK.Aku ingin sekali saat ini bertemu Bu Mien (Insya Allah dia beumur panjang) namun jika Tuhan sudah memanggilnya, mari Nak sama sama kita doakan Wanita baik hati itu.

Begitulah Nak, surat sederhana ini, o ya, kamu sudah punya rumah rumahan bukan, dan tentu saja boneka yang lucu. Sementara bermainlah dulu dengan boneka dan rumah rumahanmu, jangan nakal pada Bunda, dan tentu saja Mam yang banyak, biar tambah Ndwut...

Okeh sayang...

mmmuach...Love U... 

Wednesday, August 25, 2010

Surat untuk Gadis Kecilku

Ra, Allah tidak pernah tidur nak, Ia selalu terbangun, tidak pernah mengantuk seperti kita, Ia selalu melihat, memperhatikan dan mendengar apa yang kita lakukan, dan kita katakan. Bahkan Allah mendengar doa doa dalam hati kita sayangku.

Doamu Nak, agar kita bisa berlebaran, menikmati Idul Fitri bersama adalah doa paling indah yang pernah aku dengar meski berantara sinyal kemajuan zaman. Gadis kecilku yang cantik, Insya Allah kita akan berlebaran nak, ke Masjid, berfoto bersama, main ke rumah nenek, aki, dan tentu saja kita akan berlarian di jalan menuju sawah yang biasa kita jadikan lokasi pemotretan. Ha a, anak kecil sepertimu pastilah bahagia sekali. Namun lebaran bukan baju baru sayang, bukan kue kue enak atau kemewahan, dan bukan pula pesta pora seolah lepas dari penjara waktu 30 hari.

Lebaran adalah doa doa kepada Yang Maha Kuasa agar kita diberi kembali kesematan untuk bertemu dengan Ramadhan tahun depan dan tahun berikutnya. Sayangku, ingin rasanya mengendongmu saat ini, mendengar ceritamu tentang ikan, kucing dan apa saja yang ingin kau ceritakan. Ingin juga rasanya menikmati gaya centilmu di depan kameraku dan tertawa lepas ketika melihat hal yang kau anggap lucu. Duniamu memang indah Nak. O ya, maafkan aku, aku pernah berkata pada bundamu, agar kau tidak menjadi besar dan bertambah umur, seusia sekarang saja, karena belum puasa rasanya melihatmu dengan gaya seperti ini. Tapi itu hanya bercanda gadis kecil, dan Tuhanpun pasti tertawa mendengarnya.

Ra, kamu masih ingat Nak ?, saat memberikan uang kepada kakek tua di depan Jam Gadang itu, atau saat keningmu berkerut melihat anak sebayamu digendong ibunya yang menadahkan tangan saat kita berhenti di lampu merah. Mereka juga bagian dari kita sayang cantik...Jadi berlebaranlah dengan sederhana seperti Muhammad SAW ajarkan kepada Fatimah Azzahra.

Sabtu ini Insya Allah kita akan bertemu lagi, berdoalah semua akan berjalan baik, kita akan main bersama, bersepeda, berfoto, melihat ikan di kolam, dan ritual lain yang biasa kita lakukan saat bersama. Anakku, jangan nakal, jangan bandel karena anak nakal dan bandel tidak masuk SORGA.

Okeh...
Peluk cium untukmu gadis kecil..
Love u...
Kenapa...?

Sayang, hari hariku menjadi asing sekarang. tak ada lagi cerita tentang cinta, airmata, rindu dan kehidupan. yang terjadi adalah istirahat yang dipaksakan. kenapa kita harus dipisahkan, dan kenapa kita harus menerima takdir ini, dan kenapa kita kenapa dipertemukan, kenapa? kenapa? kenapa?...
Sayangku, Izinkan aku Menulis

Izinkan aku menuliskan kisah ini, sebuah kisah yang pernah terjadi antara kita, sebuah kisah sedih yang memang seharusnya kita alami dan begitu juga harus kita akhiri. Kalimat pertama, izinkan aku meminta maaf padamu, padanya dan pada mereka. Untuk semua yang terjadi, telah terjadi dan mungkin akan terjadi karena kesalahan ini.

Sayangku, izinkan aku menuliskan kisah ini, hanya kali ini, dan untuk hari ini saja, besok bukan waktu yang tepat, apalagi lusa, atau kemudian hari. Luka begitu lebar untuk kututupi, darahnya begitu deras mengalir yang tak sanggup ku hentikan. Kita tentu tidak mau mati sia sia bukan.

Hanya sebuah kisah pendek, tidak panjang dan tidak akan menghabiskan lembar lembar sejarah hidupmu. Hanya tentang aku, kau dan dia. Kisah kita. Kisah tentang sepi, perih dan juga (mungkin) tawa bahagia. Entahlah...

Demikianlah sayangku, aku tak sanggup lagi menulis, simpan surat ini baik baik, jangan kau beritahu mereka, cukup kita yang tahu. Salam sayang selalu untukmu...


Aku...
Begini Saja
Ini tentang cinta sayangku, Sesuatu yang indah dan takkan mampu kau terjemahkan dengan lidahmu yang hanya biasa biasa saja... Jangan pula kau tanya kenapa aku mencinta, karna makna telah tertera di hati kita tanpa perlu kau minta...
Kau masih saja memaksa, sementara aku telah menuntaskan semua pencarian jejak aksara untuk merangkai kata yang pantas, sudahlah...
Begini saja, seperti kataku, pejamkan matamu, sebut namaku sesaat, kau pasti akan temukan jawabannya tanpa perlu memaksa lelaki ini...cinta bukan untuk diterjemahkan sayang manisku, cinta untuk kita rasa,dan miliki utuh selamanya...percayalah, aku untukmu, dan sebaliknya....

Wednesday, July 14, 2010

Kisah Sedih seorang Boby

Punah benar rasanya saya hari ini, lemah seluruh tulang belulang, kenapa tidak, saya dituduh melakukan yang tidak tidak, benar benar sakit hati saya, Iba benar tepatnya. Uang tak ada, kalah pula dalam pilkada kena tuduh pula lagi...Tuhan dan saya sajalah yang tahu apa yang terjadi pada saya.

Belum selesai merenungi nasib, tadi malam, saya bicara kepada istri, berapa uang dalam tabunganya yang tertinggal, ia menjawab hanya cukup untuk membayar tagihan listrik, PDAM, beli air minum galon dan uang lauk pauk sampai akhir bulan. Untuk susu dna bubur anak aman sudah, karena stok masih banyak.

Untunglah saya tidak pengopi dan perokok, saya merokok itupun sekali kali saja, gratis pula. Tuhan baik sekali mempertemukan saya dengan rokok hanya pada waktu waktu ada yang membayarkan rokok menthol saya yang kecil dan menarik itu.

Istri saya, sambil menyetrika baju yang akan saya pakai ke tanah Jawa ini terus bicara, seperti senapan mesin mulutnya itu, tidak henti mengumpat pemerintah yang menaikan tarif listrik, akibatnya ia tidak bisa menyimpan uang lebih banyak karena harga sembako ikut ikutan terbang ke langit, O ya..beberapa waktu lalu, pedagang ayam di kota Padang ini berdemo, ada ada saja tingkah mereka, menolak berjualan ayam, padahal anak saya yang lagi lucu lucu itu sangat suka makan ayam, istri saya juga penggemar sop ceker. Saya sering mencimeehnya karena makan ceker. "Yang dimakan orang sajalah yang kamu makan, itu kata saya sekali kepadanya yang dijawab sambil memicingkan mata menandakan dia tidak setuju sama sekali.

Soal harga Sembako, memang itulah keluhan utama kaum hawa, termasuk istri saya itu. Kalau beras amanlah kita, sawah warisan nenek saya di Pariaman cukup luas untuk memberikan pasokan beras ke rumah, namun kalau minyak goreng, apa mau dikata, kerambil yang tumbuh di sekitar rumah kami di kampung sudah meranggas, hidup malas mati takut pula. Lagipula, istri saya pasti tidak bisa membuat minyak goreng dari kelapa. Saya jamin itu, sepuluh jari di kepala..

Tapi sembako khan bukan hanya beras dan minyak goreng, ada pula jenis lain yang ikut terbang tinggi. Akhirnya pedagang jadi kreatif mereka mengoplos berbagai jenis sembako itu. Haaa...ini yang jadi penyakit, tadi saya baca berita di internet. Ada pedagang cabai yang kreatif mengoplos cabai dagangannya dengan cabai busuk. Sakit hati saya membaca berita itu, takut juga ada, jangan jangan istri saya telah membeli cabai oplosan itu pula dan memakannya dengan lahap. Hallah sudah, kalau itu terjadi, bagaimana dengan anak saya, kalau ibunya sakit gara gara makan cabai oplosan. Pasti sansai jadinya, suami tidak dirumah, badan sakit, anak kecil pula merengek minta di gendong, saya berpikir itu terjadi pada istri saya.

Dalam hati saya berdoa saja, semoga harga harga ini tidak makin terbang tinggi, kasihan istri saya, uang bulanannya pasti tidak cukup untuk membeli lauk pauk, dan kebutuhan rumah tangga lainnya, dan jangan sampai ia terpengaruh berita di TV soal ibu ibu demo gara gara harga sembako naik. Kalau istri saya ikut demo ke DPRD dan Balaikota, pusing sangat saya nanti. Masa saya wartawan meliput istri saya demo ke Balaikota membawa panci dan periuk nasi sambil menggendong anak...Semoga Tuhan menjauhkan istri saya dari TV dan Infotainment dan saya dari fitnah yang tidak bertanggung jawab. Amiin...
Bantahan Saya

Begitu banyak fitnah dan hasutan yang dialamatkan kepada saya selaku anggota Tim Kampanye Pasangan Marlis-Aristo. Tuduhan yang menyebutkan bahwa saya adalah Tim Sukses pasangan lain yang "dititipkan" ke tim kampanye MATO adalah tuduhan keji dan tidak berdasar. SEMUA HANYA FITNAH DAN TIDAK ADA FAKTANYA...Saya menyesalkan tuduhan itu dan berharap Allah SWT melindungi saya dari perbuatan yang tidak bertanggung jawab ini. dan Kepada Bpk. Prof. Dr. Marlis Rahman dan Bpk. Aristo Munandar beserta keluarga, saya ucapkan banyak terima kasih atas kebaikan yang diberikan kepada saya selama masa kampanye Pemilu Kada Sumbar dan semoga kita tidak termasuk dalam orang orang yang merugi. Terima Kasih

BLP

Tuesday, June 22, 2010

Apa Kabar Prancis, Inggris, Italia, Jerman

Andi Mastian, sahabat saya di Posko Pilkada Partai Golkar menyebutkan, ia ingin sekali melihat pemain dan official Tim Irlandia duduk di tribun penonton memakai seragam lengkap dan membentangkan spanduk besar bertuliskan "KAMILAH YANG SEHARUSNYA BERMAIN DI TOURNAMENT INI" pada saat Tim Nasional Perancis bertanding. Sungguh menurut saya itu bukan sekedar ungkapan kekesalan, namun lebih dari itu, mengambarkan kemarahan yang ammat sangat atas "ulah' Tierry Henry yang memasukkan bola ke gawang Irlandia pada saat babak play off Piala Dunia.

Sebenarnya para pemain Perancis memang tidak layak bermain di event akbar Piala Dunia, mereka sebaiknya duduk manis di depan TV sambil memamah Pop corn dan roti keju, sambil sesekali mengangkat gelas sampagne atau berlibur di kepulauan Karibia yang eksotis atau mungkin juga menikmati partai uji coba bersama klub yang membesarkan mereka di liga liga eropa.

Lihatlah bagaimana mereka bermain bola, sungguh bukan seperti Perancis yang kalah heroik di Final Germany 2006 dari Gladiator Marcello Lippi atau ketika membenamkan Raksasa Amerika Latin di Stade de France tahun 1998 lalu. Mereka memang ayam kinantan yang berubah menjadi ayam sayur, tidak ada pola bermain dan kebingungan.

Perancis hanya bergantung pada seorang Frank Ribery sebagai pengatur serangan dan Nicolas Anelka sebagai tukang pukul di lini depan. pasukan Raymond Domenech lebih mirip anak SSB daripada sekumpulan pemain bergaji mahal dan bermain di klub elit Eropa.

Tak ubahnya dengan Gladiatornya Marcelo Lippi, Pansernya Joachim Leow atau Singa singanya Don Capello.

Piala Dunia kali ini selain miskin gol, juga memberikan banyak kejutan. Siapa sangka Serbia yang kecil markucil itu bisa menjinakkan Miroslav Klose dan kawan kawan, atau anak anak Abang Sam yang lebih akrab dengan nyanyi rap dan basket malah bisa menahan imbang Inggris yang mengaku sebagai tanah lahirnya sepak bola.

Sungguh inilah pesta sepakbola dunia yang benyak memberikan kejutan, jadi jangan salah jika kemudian pasar taruhan kacau balau dan mata yang rela menahan kantuk menyumpah karena tim tim unggulan kalah atau bermain asal asalan melawan klub semenjana

Ini hanya sekedar catatan singkat yang mungkin tidak perlu untuk dipublikasikan apalagi untuk dibanggakan. Memang ini hanya sebuah catatan kecil yang tidak berarti, namun saya memaksakan diri untuk yakin bahwa catatan kecil ini mungkin akan ada gunanya bagi kita yang membacanya.

Waktu kecil Ibu mengajarkanku untuk tidak mudah melupakan hal hal kecil dalam hidup, dan bahkan sebaiknay dicatat agar suatu saat nanti ketika dewasa menjelang kita sudah mempunyai referensi yang lebih dari cukup untuk membuat sebuah keputusan dalam hidup.

Didikan lain yang aku rasakan dari ibu adalah bahwa kita harus selalu mendengarkan orang lain, meski yang disampaikan itu buruk, tetaplah dengar setiap ucapannya. "Hargai lawan bicaramu," itu yang selalu Ibu katakan.

Sesungguhnhya saya bukan pendengar yang baik, bahkan (mungkin) selalu mengantuk ketika orang lain bicara, bukan karena tidak menghargai, tapi memang begitulah adanya.

Namun dalam perjalanan panjang hidup yang hari ini digenapkan menjadi 34 tahun (tepatnya jam 10 pagi ini) saya mempunyai sebuah kenangan tentang penghapus tulisan yang terbuat dari karet padat berwarna pink, sebuah penghapus pensil yang unik, kecil, dan terletak di ujung pensil.

Saya merasa lebih bersyukur, di saat pertama kali masuk sekolah saya hanya dibekali Nenek dengan sebuah pensil dan sebuah buku bersampul biru dengan isi yang hanya 18 lembar saja. Pun itu nikmati bersekolah tanpa tas dan apalagi kotak pensil mahal seperti teman kebanyakan yang bersekolah di kota.

Maklum sejak kelas I SD hingga kelas III, saya tidak tinggal dengan Ibu serta tiga saudara saya yang lain di Padang, dengan alasan sederhana, saya harus dititipkan kepada Nenek. Maklumlah,sebagai anak lelaki pertama dari sekian turunan diatas saya, Nenek merasa paling berkepentingan untuk mendidik saya dari awal dan Alhamdulillah didikan keras, penuh disiplin dan dibumbui dengan sifat "pelit" itu saya rasakan sebagai sebuah anugrah yang tidak mungkin akan saya dapatkan dari pendidik lainnya.

Setiap hari saya bersekolah dengan berjalan kaki, di sebuah SD Inpres. Letak sekolah itu diatas bukit di sebuah desa yang bernama Bungo Tanjuang. Pada waktu itu tangan tangan kekuasaan begitu kuat mencengkram sehingga nama nagari kami yang tadinya bernama Lansano berubah menjadi nama Desa Bunga Tanjung yang berbatas sawah yang, sungai yang jernih dan bukit bukit kecil.

Kembali ke soal pensil, setiap nenek membelikan saya pensil baik karena hilang maupun habis, selalu saja di ujung pensil itu terdapar sebuah karet penghapus berwarna merah tadi dan telah siap sedia digunakan kalau terdapat kesalahan. Setiap kesalahan tulisan dengan pensil, saya selalu menggunakan karet merah yang terdapat di ujung pensil, dan bahkan kalau karet itu habis, saya masih bisa menghapusnya dengan karet gelang yang saya lilitkan di pangkal pensil itu.

Sedangkan beberapa teman, susah payah menghapusnya dengan tetesan ludah yang kemudian digosoknya dengan ujung jari. Bukannya malah menjadi bersih, malah membuat kotor karena kertas tiba tiba hitam dan bahkan kadang halaman buku di situ robek berlubang. Yang kreatif, memanfaatkan sisa

sandal yang telah afkir sebagai penghapus. Namanya alternatif, serba darurat, hasil hapusannya pun tak sebersih penghapus sungguhan. Ketika sekolah menenga pulpen. Tetapi kesalahan tetap saja terjadi. Yang kerap adalah salah menjawab soal waktu ulangan. Dan guru, tak mau melihat kertas jawaban penuh coretan. Mereka akan mendiskon nilai ulangan, yang jawabannya tak rapi lagi penuh coretan. Maka siswi - jarang sekali siswa - yang terkenal lengkap alat tulisnya adalah sasaran favorit untuk meminjam penghapus.

Jaman ini musimnya cairan penghapus yang warnanya putih pekat. Pertama kali keluar mereknya Tip-X dalam botol kecil. Cara memakainya disapukan seperti kuas. Kemudian muncul berbagai merek lain dan inovasi baru. Tak lagi seperti kuas yang sering bikin tangan belepotan, tapi ditekan seperti tube pasta gigi. Meskipun banyak merek baru, tetap saja disebut sebagai tip ex. Khasiatnya sama mujarab, menghapus kesalahan tulis yang mengganggu.

Kalau hari-hari adalah lembaran buku. Maka pikiran, ucapan dan tindakan adalah pensil atau bolpoinnya. Dalam sepanjang mata dan otak terjaga pensil itu berulang-ulang menulis dan menulis. Pasti dari sekian banyak huruf yang dituliskan, banyak terjadi kesalahan. Entah sadar atau tidak. Entah terketahui atau tidak.

Hari ini, almanak baru dibuka, menggenapkan usia yang sudah melebihi kepala tiga, usia yang sudah lagi memberikan kesempatan, ruang dan waktu untuk bertingkah laku sama seperti sebelumnya. Maafkan semua kesalahan dan terima kasih atas semua doa dan harapan kepada saya. Semoga di usia yang kian tua ini, semua harapan dan doa dapat dikabulkanNya. Amiin...

Salam hormat dan bahagia..

BOBY LUKMAN SUARDI PILIANG
Hasil Survey Sebagai Alat Propaganda Politik

Media cetak terbitan Padang pekan lalu merilis hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh Lembaga Survey Indonesia (LSI) bahwa pasangan Calon Gubernur/Wakil Gubernur Marlis Rahman - Aristo Munandar (MATO) memiliki tingkat elektabilitas tertinggi dibanding empat kandidat gubernur lainnya pada Pemilukada Sumbar, namun demikian, kemenangan MATO tidaklah terlalu signifikan sebab hanya terpaut sekian persen dibawahnya, pasangan Irwan Prayitno - Muslim Kasim berada di posisi kedua dan ketiga pasangan lain menyusul di posisi tiga, empat dan lima.

Tak lama berselang, media media yang sama kembali berlomba merilis hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh lembaga survey INCOST yang justru malah sebaliknya, pasangan Irwan Prayitno - Muslim Kasim sudah jauh leading dibanding empat pasang calon lainnya bahkan dengan perolehan suara yang memungkinkan pilkada cukup dilakukan satu putaran saja.

Saya tidak hendak mengomentari hasil survey, apalagi kemudian terjebak dalam bantah bantahan, sebab sebagai orang yang pernah terlibat dalam proses survey, saya faham betul, bahwa setiap hasil survey adalah buah dari sebuah pekerjaan akademik yang jelas dapat dipertanggungjawaban, sekali lagi dari sisi akademik.

Survey opini publik/jajak pendapat menjadi trend di Indonesia sejak tahun 2003 lalu, ketika trio Muhammad Qodari, Syaiful Mujani dan Deny JA mendirikan Lembaga Survey Indonesia. Pada perjalanannya kemudian hari, mereka bertiga menjadi motor bagi para ilmuwan politik lainnya untuk melakukan hal yang sama.

Sebelumnya, jajak pendapat opini publik dilakukan untuk kalangan internal dan tidak dipublikasikan, namun seiring dinamika politik pada waktu itu, hasil jajak pendapat disiarkan melalui media secara masif dan berkelanjutan hingga hari ini.

Survey atau jajak pendapat jelas tidak bisa dibantah bahkan dengan kalimat apapun, karena pekerjaan ini jelas mengacu pada teory dan data statistik yang sudah ada serta dilakukan dalam koridor ilmu yang secara ketat mengatur tentang metodelogi dan sistimatikanya.

Kembali ke berita di berbagai media lokal di Padang yang sudah dua kali merilis hasil survey dari dua lembaga berbeda, saya mengingatkan kita semua betapa pentingnya untuk mengetahui metode penelitian yang dipakai serta penarikan sampelnya. Selain kemudian mengetahui pula track record lembaga survey tersebut. Dalam direktori Asosiasi Lembaga Riset Opini Publik Indonesia (AROPI) saat ini tercatat puluhan lembaga survey berbagai skala pekerjaan aktif di Indonesia. Dan sudah tentu saja memiliki latar belakang berbeda.

Tidaklah sulit mendirikan lembaga survey, karena cukup dengan mengurus akta notaris lembaga, serta persyaratan administrasi lainnya, mempunyai analis politik dan ahli statistik, rasannya sudah cukup syarat untuk mendirikan sebuah lembaga survey.

Namun persoalannya, apakah setiap lembaga survey mempunyai analis politik dan ahli statistik yang dapat diandalkan ?, sebab dalam survey, kita menyatukan dua disiplin ilmu yang berbeda yaitu ilmu statistik dan ilmu sosial.

Iklan lembaga survey dan riset yang diterbitkan beberapa media harian terbitan hari Selasa dan Rabu pekan ini, lebih ditujukan untuk melakukan propganda politik atau menggertak lawan dalam sebuah pertarungan politik sambil mempeengaruhi opini pemilih agar beralih atau mengalihkan dukungan kepada calon yang didukungnya.

Sahkah ini ?, jelas sah sah saja, sebab dalam sebuah kampanye politik, sebuah attack campaign jelas dibolehkan. Saya setuju dengan iklan itu, namun tidak dengan hasil survey yang dirilis. Karena untuk mendapatkan responden sebanyak 7000 lebih seperti yang disebutkan, butuh biaya besar dan analisa yang komfrehensif serta tentu saja kita juga harus melihat quisionernya. Penyusunan quisioner jelas akan berpengaruh kepada hasil atau jawaban responden. Bukan tidak mungkin quisioner disusun sedemikian rupa sehingga responden tertuntun untuk menjawab sesuai yang diinginkan interviewer. Dan satu hal yang penting, si penyelenggara survey sendiri menyebutkan bahwa tingkat kepercayaan hanya mencapai 95 persen, angka yang masih jauh dari maksimal.

Tapi apresiasi yang tinggi saya berikan kepada teman teman di lembaga tersebut sebagai awal dari sebuah proses positif menuju dialektika politik yang maju dan demokratis di ranah minang.

Salam

BOBY LUKMAN PILIANG
(Tim Kampanye MARLIS - ARISTO)