Tuesday, June 22, 2010

Apa Kabar Prancis, Inggris, Italia, Jerman

Andi Mastian, sahabat saya di Posko Pilkada Partai Golkar menyebutkan, ia ingin sekali melihat pemain dan official Tim Irlandia duduk di tribun penonton memakai seragam lengkap dan membentangkan spanduk besar bertuliskan "KAMILAH YANG SEHARUSNYA BERMAIN DI TOURNAMENT INI" pada saat Tim Nasional Perancis bertanding. Sungguh menurut saya itu bukan sekedar ungkapan kekesalan, namun lebih dari itu, mengambarkan kemarahan yang ammat sangat atas "ulah' Tierry Henry yang memasukkan bola ke gawang Irlandia pada saat babak play off Piala Dunia.

Sebenarnya para pemain Perancis memang tidak layak bermain di event akbar Piala Dunia, mereka sebaiknya duduk manis di depan TV sambil memamah Pop corn dan roti keju, sambil sesekali mengangkat gelas sampagne atau berlibur di kepulauan Karibia yang eksotis atau mungkin juga menikmati partai uji coba bersama klub yang membesarkan mereka di liga liga eropa.

Lihatlah bagaimana mereka bermain bola, sungguh bukan seperti Perancis yang kalah heroik di Final Germany 2006 dari Gladiator Marcello Lippi atau ketika membenamkan Raksasa Amerika Latin di Stade de France tahun 1998 lalu. Mereka memang ayam kinantan yang berubah menjadi ayam sayur, tidak ada pola bermain dan kebingungan.

Perancis hanya bergantung pada seorang Frank Ribery sebagai pengatur serangan dan Nicolas Anelka sebagai tukang pukul di lini depan. pasukan Raymond Domenech lebih mirip anak SSB daripada sekumpulan pemain bergaji mahal dan bermain di klub elit Eropa.

Tak ubahnya dengan Gladiatornya Marcelo Lippi, Pansernya Joachim Leow atau Singa singanya Don Capello.

Piala Dunia kali ini selain miskin gol, juga memberikan banyak kejutan. Siapa sangka Serbia yang kecil markucil itu bisa menjinakkan Miroslav Klose dan kawan kawan, atau anak anak Abang Sam yang lebih akrab dengan nyanyi rap dan basket malah bisa menahan imbang Inggris yang mengaku sebagai tanah lahirnya sepak bola.

Sungguh inilah pesta sepakbola dunia yang benyak memberikan kejutan, jadi jangan salah jika kemudian pasar taruhan kacau balau dan mata yang rela menahan kantuk menyumpah karena tim tim unggulan kalah atau bermain asal asalan melawan klub semenjana

Ini hanya sekedar catatan singkat yang mungkin tidak perlu untuk dipublikasikan apalagi untuk dibanggakan. Memang ini hanya sebuah catatan kecil yang tidak berarti, namun saya memaksakan diri untuk yakin bahwa catatan kecil ini mungkin akan ada gunanya bagi kita yang membacanya.

Waktu kecil Ibu mengajarkanku untuk tidak mudah melupakan hal hal kecil dalam hidup, dan bahkan sebaiknay dicatat agar suatu saat nanti ketika dewasa menjelang kita sudah mempunyai referensi yang lebih dari cukup untuk membuat sebuah keputusan dalam hidup.

Didikan lain yang aku rasakan dari ibu adalah bahwa kita harus selalu mendengarkan orang lain, meski yang disampaikan itu buruk, tetaplah dengar setiap ucapannya. "Hargai lawan bicaramu," itu yang selalu Ibu katakan.

Sesungguhnhya saya bukan pendengar yang baik, bahkan (mungkin) selalu mengantuk ketika orang lain bicara, bukan karena tidak menghargai, tapi memang begitulah adanya.

Namun dalam perjalanan panjang hidup yang hari ini digenapkan menjadi 34 tahun (tepatnya jam 10 pagi ini) saya mempunyai sebuah kenangan tentang penghapus tulisan yang terbuat dari karet padat berwarna pink, sebuah penghapus pensil yang unik, kecil, dan terletak di ujung pensil.

Saya merasa lebih bersyukur, di saat pertama kali masuk sekolah saya hanya dibekali Nenek dengan sebuah pensil dan sebuah buku bersampul biru dengan isi yang hanya 18 lembar saja. Pun itu nikmati bersekolah tanpa tas dan apalagi kotak pensil mahal seperti teman kebanyakan yang bersekolah di kota.

Maklum sejak kelas I SD hingga kelas III, saya tidak tinggal dengan Ibu serta tiga saudara saya yang lain di Padang, dengan alasan sederhana, saya harus dititipkan kepada Nenek. Maklumlah,sebagai anak lelaki pertama dari sekian turunan diatas saya, Nenek merasa paling berkepentingan untuk mendidik saya dari awal dan Alhamdulillah didikan keras, penuh disiplin dan dibumbui dengan sifat "pelit" itu saya rasakan sebagai sebuah anugrah yang tidak mungkin akan saya dapatkan dari pendidik lainnya.

Setiap hari saya bersekolah dengan berjalan kaki, di sebuah SD Inpres. Letak sekolah itu diatas bukit di sebuah desa yang bernama Bungo Tanjuang. Pada waktu itu tangan tangan kekuasaan begitu kuat mencengkram sehingga nama nagari kami yang tadinya bernama Lansano berubah menjadi nama Desa Bunga Tanjung yang berbatas sawah yang, sungai yang jernih dan bukit bukit kecil.

Kembali ke soal pensil, setiap nenek membelikan saya pensil baik karena hilang maupun habis, selalu saja di ujung pensil itu terdapar sebuah karet penghapus berwarna merah tadi dan telah siap sedia digunakan kalau terdapat kesalahan. Setiap kesalahan tulisan dengan pensil, saya selalu menggunakan karet merah yang terdapat di ujung pensil, dan bahkan kalau karet itu habis, saya masih bisa menghapusnya dengan karet gelang yang saya lilitkan di pangkal pensil itu.

Sedangkan beberapa teman, susah payah menghapusnya dengan tetesan ludah yang kemudian digosoknya dengan ujung jari. Bukannya malah menjadi bersih, malah membuat kotor karena kertas tiba tiba hitam dan bahkan kadang halaman buku di situ robek berlubang. Yang kreatif, memanfaatkan sisa

sandal yang telah afkir sebagai penghapus. Namanya alternatif, serba darurat, hasil hapusannya pun tak sebersih penghapus sungguhan. Ketika sekolah menenga pulpen. Tetapi kesalahan tetap saja terjadi. Yang kerap adalah salah menjawab soal waktu ulangan. Dan guru, tak mau melihat kertas jawaban penuh coretan. Mereka akan mendiskon nilai ulangan, yang jawabannya tak rapi lagi penuh coretan. Maka siswi - jarang sekali siswa - yang terkenal lengkap alat tulisnya adalah sasaran favorit untuk meminjam penghapus.

Jaman ini musimnya cairan penghapus yang warnanya putih pekat. Pertama kali keluar mereknya Tip-X dalam botol kecil. Cara memakainya disapukan seperti kuas. Kemudian muncul berbagai merek lain dan inovasi baru. Tak lagi seperti kuas yang sering bikin tangan belepotan, tapi ditekan seperti tube pasta gigi. Meskipun banyak merek baru, tetap saja disebut sebagai tip ex. Khasiatnya sama mujarab, menghapus kesalahan tulis yang mengganggu.

Kalau hari-hari adalah lembaran buku. Maka pikiran, ucapan dan tindakan adalah pensil atau bolpoinnya. Dalam sepanjang mata dan otak terjaga pensil itu berulang-ulang menulis dan menulis. Pasti dari sekian banyak huruf yang dituliskan, banyak terjadi kesalahan. Entah sadar atau tidak. Entah terketahui atau tidak.

Hari ini, almanak baru dibuka, menggenapkan usia yang sudah melebihi kepala tiga, usia yang sudah lagi memberikan kesempatan, ruang dan waktu untuk bertingkah laku sama seperti sebelumnya. Maafkan semua kesalahan dan terima kasih atas semua doa dan harapan kepada saya. Semoga di usia yang kian tua ini, semua harapan dan doa dapat dikabulkanNya. Amiin...

Salam hormat dan bahagia..

BOBY LUKMAN SUARDI PILIANG
Hasil Survey Sebagai Alat Propaganda Politik

Media cetak terbitan Padang pekan lalu merilis hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh Lembaga Survey Indonesia (LSI) bahwa pasangan Calon Gubernur/Wakil Gubernur Marlis Rahman - Aristo Munandar (MATO) memiliki tingkat elektabilitas tertinggi dibanding empat kandidat gubernur lainnya pada Pemilukada Sumbar, namun demikian, kemenangan MATO tidaklah terlalu signifikan sebab hanya terpaut sekian persen dibawahnya, pasangan Irwan Prayitno - Muslim Kasim berada di posisi kedua dan ketiga pasangan lain menyusul di posisi tiga, empat dan lima.

Tak lama berselang, media media yang sama kembali berlomba merilis hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh lembaga survey INCOST yang justru malah sebaliknya, pasangan Irwan Prayitno - Muslim Kasim sudah jauh leading dibanding empat pasang calon lainnya bahkan dengan perolehan suara yang memungkinkan pilkada cukup dilakukan satu putaran saja.

Saya tidak hendak mengomentari hasil survey, apalagi kemudian terjebak dalam bantah bantahan, sebab sebagai orang yang pernah terlibat dalam proses survey, saya faham betul, bahwa setiap hasil survey adalah buah dari sebuah pekerjaan akademik yang jelas dapat dipertanggungjawaban, sekali lagi dari sisi akademik.

Survey opini publik/jajak pendapat menjadi trend di Indonesia sejak tahun 2003 lalu, ketika trio Muhammad Qodari, Syaiful Mujani dan Deny JA mendirikan Lembaga Survey Indonesia. Pada perjalanannya kemudian hari, mereka bertiga menjadi motor bagi para ilmuwan politik lainnya untuk melakukan hal yang sama.

Sebelumnya, jajak pendapat opini publik dilakukan untuk kalangan internal dan tidak dipublikasikan, namun seiring dinamika politik pada waktu itu, hasil jajak pendapat disiarkan melalui media secara masif dan berkelanjutan hingga hari ini.

Survey atau jajak pendapat jelas tidak bisa dibantah bahkan dengan kalimat apapun, karena pekerjaan ini jelas mengacu pada teory dan data statistik yang sudah ada serta dilakukan dalam koridor ilmu yang secara ketat mengatur tentang metodelogi dan sistimatikanya.

Kembali ke berita di berbagai media lokal di Padang yang sudah dua kali merilis hasil survey dari dua lembaga berbeda, saya mengingatkan kita semua betapa pentingnya untuk mengetahui metode penelitian yang dipakai serta penarikan sampelnya. Selain kemudian mengetahui pula track record lembaga survey tersebut. Dalam direktori Asosiasi Lembaga Riset Opini Publik Indonesia (AROPI) saat ini tercatat puluhan lembaga survey berbagai skala pekerjaan aktif di Indonesia. Dan sudah tentu saja memiliki latar belakang berbeda.

Tidaklah sulit mendirikan lembaga survey, karena cukup dengan mengurus akta notaris lembaga, serta persyaratan administrasi lainnya, mempunyai analis politik dan ahli statistik, rasannya sudah cukup syarat untuk mendirikan sebuah lembaga survey.

Namun persoalannya, apakah setiap lembaga survey mempunyai analis politik dan ahli statistik yang dapat diandalkan ?, sebab dalam survey, kita menyatukan dua disiplin ilmu yang berbeda yaitu ilmu statistik dan ilmu sosial.

Iklan lembaga survey dan riset yang diterbitkan beberapa media harian terbitan hari Selasa dan Rabu pekan ini, lebih ditujukan untuk melakukan propganda politik atau menggertak lawan dalam sebuah pertarungan politik sambil mempeengaruhi opini pemilih agar beralih atau mengalihkan dukungan kepada calon yang didukungnya.

Sahkah ini ?, jelas sah sah saja, sebab dalam sebuah kampanye politik, sebuah attack campaign jelas dibolehkan. Saya setuju dengan iklan itu, namun tidak dengan hasil survey yang dirilis. Karena untuk mendapatkan responden sebanyak 7000 lebih seperti yang disebutkan, butuh biaya besar dan analisa yang komfrehensif serta tentu saja kita juga harus melihat quisionernya. Penyusunan quisioner jelas akan berpengaruh kepada hasil atau jawaban responden. Bukan tidak mungkin quisioner disusun sedemikian rupa sehingga responden tertuntun untuk menjawab sesuai yang diinginkan interviewer. Dan satu hal yang penting, si penyelenggara survey sendiri menyebutkan bahwa tingkat kepercayaan hanya mencapai 95 persen, angka yang masih jauh dari maksimal.

Tapi apresiasi yang tinggi saya berikan kepada teman teman di lembaga tersebut sebagai awal dari sebuah proses positif menuju dialektika politik yang maju dan demokratis di ranah minang.

Salam

BOBY LUKMAN PILIANG
(Tim Kampanye MARLIS - ARISTO)

Wednesday, October 21, 2009

Bunda...

di post di FB tgl 28 Agustus

Bu...hari ni genaplah sudah 17 tahun semua berlalu. Bukan waktu yang singkat Bu, dan tentu saja bukan hal yang mudah untuk meninggalkan perasaan sedih jauh ke sungai hingga mengalir terus ke muara.

Bu,apakabar Ibu disana ? Ibu baik baik saja khan ? Semoga Allah memberikan ibu tempat yang lapang, hangat serta benderang disisinya.

Bu, semua berjalan cepat waktu itu. Ibu mengeluh demam, lalu tiba tiba tak bisa melakukan apa. Semua panik meski adalah hal biasa dalam dua tahun sebelumnya Ibu menjadi langganan tetap rumah sakit itu. Tapi siang itu keadaan menjadi lain dan berubah dengan cepat tanpa bisa dikendalikan. Asma yang kambuh, tekanan darah yang fluktuatif serta tenaga yang kianmelemah dan diperparah tidak ada orang di rumah. Semua sibuk, kamisekolah, dan tetangga juga tidak begitu mengetahui keadaan itu.

Bu, masih saja ingat betapa kejamnya rumah sakit itu. Memang "Orang Miskin Dilarang Sakit". Tapi bukankah kita mempunyai jaminan bahwa kita tidak akan lari. Memang ajal ditangan Tuhan, tapi petugas apotek sialan itu ikut andil mempercepat datangnya Izrail. Semoga Allah mengutuk nya. Amiin.

Bu, kini sudah 17 tahun berlalu, semua berjalan sebagaimana memang sudah diatur Yang Maha Kuasa. Semua anak anakmu sudah berkeluarga, dan memberimu cucu. Semua juga mengarungi samudra hidupnya sendiri, meski hanya Bo yang berani meninggalkan kota itu, bahkan rumah itu. Tapi Bu, tidak sedetikpun pikiran keluar dari kehidupan di rumah kita, sebuah rumah sederhana dengan halaman yang luas di depannya.

Bu, terkadang timbul pertanyaan kapan kita semua akan berkumpul kembali, tidak banyak rasanya waktu yang bisa kita lalui bersama. Itulah nasib ya Bu. Kau harus berangkat bekerja ketika kami semua masih lelap dibuai mimpi dan pulang ketika kami semua juga sudah terdampar di pantai mimpi yang lain. Kata tetangga itulah resiko jadi anak pegawai negeri. Aku ingat meski hanya beberapa kepingan yang bisa disatukan, kita tinggal di gang sempit di Siteba, lalu berpindah ke Rd Saleh. Katamu Bo lahir dirumah itu, tidak sempat dibawa ke rumah sakit dan sunsang. Akh...memang bandel, sudah tidak sabaran, salah langkah pula.

Bu, Bo minta maaf telah mengecewakan Ibu. Bo tidak bisa menyelesaikan sekolah di tempat yang Ibu inginkan. Meski terasa aneh, sekolah disana memang menyenangkan, namun Bu, Bo bukan seorang penggemar pelajaran ilmu pasti. Bagaimana mungkin Bo bisa konsentrasi belajar di sekolah yang penuh dengan zat zat kimia, peralatan laboratorium canggih jika di rumah semua buku buku bacaan adalah buku sejarah yang terlalu seksi untuk tidak disentuh dan dibaca. Ah Bu..itulah kesalahan kita. Bo juga heran, kenapa bisa lulus dan diterima sekolah disitu dengan peringkat lumayan tinggi sementara nilai ilmu pasti di SMP hanya pas pasan. Aneh dan itulah dunia, dia menghadirkan apa saja yang tidak pernah kita duga.

Bu, waktu terus berjalan, langkah terseok tertatih menarik diri keluar dari semua ketidakpastian. Beruntung Bu, Ibu memiliki adik dan orang tua yang mau menjaga kami, dan melindungi kami, meski beberapa kali kami harus menjaminkan SK Pensiunmu ke Bank untuk biaya hidup dan sekolah kami berempat. Bahkan warisanmu juga kami jual agar sekolah kami semua selesai tepat waktu.

Bu, Bo belum cerita ya kalau Bo pernah jadi penjual sandal, pendaki gunung, ikut panjat tebing segala, penjual sate, calo mobil bekas, tukang catut karcis lapangan bola, penyiram bunga, Ball boy lapangan tenis dan seabrek profesi halal lainnya. Semuanya Bu, semuanya hanya untuk bertahan hidup agar tidak tergilas keganasan roda roda nasib. dan Allhamdulilah Bu, semua dijalani dengan harapan hidup akan berakhir manis.

Bu, Bo ingin sekali pulang, seperti dulu, duduk dan ikut kemana ibu pergi. Menikmati smur tahu kecap buatan Ibu, telur dadar, atau sambal semut api. Bu, sumpah Bo ingin itu. Tapi itu tidak mungkin ya Bu, tidak akan pernah mungkin terjadi.

Bu, Bo juga mau minta maaf entah untuk keberapa kali, Bo belum sempat pulang ke Padang, masih banyak kegiatan yang harus diselesaikan disini. Doain ya Bu semua kerjaan Bo bisa diselesaikan dan lebaran nanti bisa pulang dan menemui Ibu.

Udah ya Bu, semoga damai dan tenang disana. Bo selalu kirim Al Fathehah kepada ibu, mendoakan agar keselamatan menjadi milik Ibu.

Sembah sujud ananda
In Memorium Harfianto (Wartawan POSMETRO PADANG)

Saya tidak mengenalnya dengan akrab, karena memang keadaannya begitu...namun sekali bertemu dengannya di ruang redaksi POSMETRO PADANG tahun 2008 lalu sudah cukup bagiku untuk mengenalnya sebagai siapa dalam menjalani kehidupan.

Berkaca mata, sedikit sipit dan berambut rada rada keriting, ia adalah seorang yang cerdas dan penuh imajinasi. Kami memang tidak bertegur sapa, apalagi berjabat tangan sebagaimana layaknya orang yang berkenalan. Maklum perkenalanku denganya terjadi didunia maya ketika kami sama sama bertukar komentar di blog masing masing. Ia adalah si http://orangmiskin.wordpress.com/ dan aku adalah si www.suaragelombang.blogspo
t.com. Akan tetapi kami sempat saling melempar senyum sebagai tanda persahabat di dunia nyata dimulai dengan baik.

Tidak ada pertemuan selanjutnya baik di dunia maya maupun di dunia nyata, hingga kabar buruk aku terima dari seorang kawan yang mengabarkan dia dirawat dan akan menjalani operasi di kepala. Sungguh mengejutkan, dia yang aku lihat sehat justru akan menjalani operasi di kepala. Barulah ketika sebuah kabar konfirmasi datang saya jadi tahu apa yang terjadi.

Di blognya, ia begitu sederhana dengan bahasa yang humanis. Sederhana juga bersahaja karena dia dengan tegas menyebut diri sebagai orang miskin dan tengah terdampar di dunia yang bergegas (Harfianto---Lahir beberapa tahun yang lalu di sebuah kampung. Pernah kuliah di Universitas Andalas, dan kemudian terdampar di dunia yang selalu bergegas, dunia jurnalistik). saya juga banyak membaca tulisannya baik berupa reportase kesehariannya maupun pandangan atau oponinya terhadap sesuatu yang dilihat, didengar dan dirasakannya sendiri.

Siang yang terik sebelum kabar kepergiannya datang, aku sempat bertanya kepada Bambang dan Titin dua rekannnya sesama wartawan tentang keadannya dab apa penyebab pasti dia tertimpa musibah itu. Entah karena sudah cukup tahu atau memang berpengalaman, aku langsung saja mengatakan pada Bambang dan Titin bahwa kalau begitu keadannya secara medis sudah sangat tipis harapan untuk mengembalikan Anto kepada kita semua. Biarlah Tuhan berkehendak dan mari kita menerima dengan lapang hati dan tawakal. Dan baik Bambang maupun Titin juga tidak bersuara apalagi mengiyakan.

Kini, malam ini ketika kabar kepergiannya benar benar nyata aku membaca kembali blognya, sebuah reportase tentang keadaan pasca gempa bumi yang melanda Padang pada 30 Oktober lalu. Sebuah reportase yang ia janjikan akan disambung. Reportase yang menggugah karena ia sendiri menjadi aktor dalam peristiwa itu, namun sudah pasti ia tidak akan melanjutkan ceritanya.

Anto, tidak perlu lanjutkan tulisan itu, karena kami sudah tahu apa yang terjadi. Selamat jalan kawan, Tuhan memberkati.

sila juga di klik :

http://orangmiskin.wordpress.com/tentang-saya/
http://orangmiskin.wordpress.com/2009/10/05/gempa-di-penghujung-september-1/
Gamawan dan Kita yang Gelisah (sebuah ungkapan mangalasau)

Semua orang berkomentar ketika Gamawan dipanggil SBY ke CIkeas untuk diwawancarai dan dijadikan sebagai salah satu mentreri di kabinetnya. Ada komentar yang mendukung habis habisan, sekedar mendukung saja dan berucap selamat, ada yang optimis Gamawan akan berhasil namun ada juga sebaliknya yang bersuara keras menentang. Apalah kita ini, Presiden bukan, penguasa bukan. Gamawan jadi Menteri apa urusan kita, apa untungnya bagi kita kalau Gamawan jadi Menteri, ada dunsanak kita yang akan diajaknya masuk ke Departemen yang akan dipimpinnya itu atau sebaliknya ada dunsanak kita yang akan tercampak kalau Gamawan duduk disana.

Ini bukan soal sikap tidak peduli atau apalah namanya dalam bahasa Minang. Tapi mari bersikap biasa biasa saja, Gamawan jadi Menteri itu khan karena ada yang memilihnya dan sudah garis hidupnya pula bahwa pada Bulan Oktober ini dia dilantik jadi Menteri (Insya Allah).

Saya mau berbagi cerita sedikit di palanta ini, dulu sekali ketika masih bersekolah dengan celana merah sampai biru, setap bulan Maret setelah Suharto kembali jadi Presiden RI, banyak orang di Padang (waktu itu) bergeduru di depan TV untuk menonton Suharto yang mengumumkan nama nama pembantunya. Dan kita waktu itu mulai dengan catatan siapa nama orang Minang, peranakan Minang, minantu orang minang atau berbaun minang yang jadi Menteri. Begitu bangganya kita akan hal itu. Bersorak keliling rumah tanda senang ada juga orang minang yang jadi Menteri. Bagolak benar rasa hati jika orang minang atau berbaun minang itu jadi menteri setiap tahun bertambah. Sampai pada suatu waktu Tuan Gus Dur tidak memasukkan satupun nama orang minang duduk di kabinet. KIta mengerutu, menyumpah bahkan mencela Gus Dur. Gus Dur kita cap lupa akan sejarah dan tidak memahami faktor faktor keseimbangan etnis.

Obat luka dalam akibat "ditinggalkan" Gus Dur itu datang pada waktu Megaawati menggantikan Gus Dur. Pun kita dengan tanpa malunya ada yang menyebut bahwa Megawati itu ibunya berasal dari Minang yang merantau ke Bengkulu. Segala macam tali temali kita tautkan agar tersambung dan melegitimasi khayalan kita bahwa benarlah adanya Megawati itu beribukan wanita Minang yang merantau ke Bengkulu. Ada ada saja.

Tradisi orang Minang jadi Menteri terus terpelihara hingga kini. Setelah pada Kabinet IB jilid I nama orang Minang masuk dalam jajaran, kali ini pun kita beroleh berkah (kata sebagian orang) karena orang minang ada di dalam kabinet.

Sekarang mau apa kita orang luar ini. Saya menyebut kita orang luar karena bukan kita punya kuasa untuk mengiyakan atau juga meng-indak-kan keinginan SBY. Siapalah kita. Gamawan jadi Menteri Dalam Negeri, Patrialis, Nila A Moeloek, Uniang Linda, Tifatul Sembiring tentu ada untungnya bagi kita, paling tidak untungnya ada anak kemenakan kita, uda kita, adik kita yang jadi orang dan bisa keluar masuk istana. Kebanggan kata orang berbahasa indonesia. Soal dia berhasil atau tidak berdoa sajalah. Soal adanya tanggapan dari pengamat dia pantas atau belum pantas itu hak pengamat juga. Tentu mereka bicara ada dasarnya, atau ada referensinya. Yang menyebut Gamawan belum pantas tentu dari kacamatanya, dan sebaliknya juga begitu bagi yang menyebut Gamawan sudah pas untuk posisi itu, termasuk SBY sendiri.

Saya tidak hendak mendukung pilihan SBY atau juga menolaknya karena saya tidak memilih SBY, jadi sebagai orang kalah (karena saya memilih JK) saya tentu tau diri dan tidak mau campur dalam urusan ini. Lagipula siapa saya, saya mengenal SBY, tapi SBY itu benar yang tidak kenal saya. Ha ha ha...

Hikmah dari jadi jadi menterinya Gamawan adalah seperti kata Benni, terbuka kesempatan bagi kaum muda minang untuk ikut berpacu menuju kursi Sumbar 1. Dukung sajalah Gamawan itu jadi menteri baik untuk dia dan tentu baik untuk sebagian kita yang mendukungnya.

Saya cuma berharap, kita orang minang ini marilah berkaca pada masa lalu dan merencanakan sesuatu yang lebih baik dimasa depan dengan potensi dan realitas sumber daya yang ada. Minang ini sudah cukup lama terpuruk. KIta harus bangkit. kita harus berbenah agar tidak tergilas.

Sunday, July 12, 2009

Prasasti...

Di halaman ini tertatam sebuah prasasti dan coretan grafiti...sudah lama tidak berkunjung dan menikmati gelombang...tapi hanya sesaat, aku harus melangkah lagi...suatu hari, akan berkunjung lagi...