Wednesday, December 8, 2010

Antara Obama Jr, Gayus Tambunan dan Cinta Laura

Minggu ini, kita dibuat heboh oleh dua berita besar, menggemparkan, menyedihkan sekaligus mengharu biru. Saya sebut menggemparkan karena terbitnya beberapa foto di Koran Kompas yang memuat gambar seseorang yang sangat mirip dengan Gayus H Tambunan seorang pegawai Ditjen Pajak Kemenkeu tengah nyengir nonton pertandingan tenis WTA di Nusa Dua Bali.

Terbitnya foto foto itu tidak saja menyentak kita sebagai orang Indonesia yang tengah berada pada titik terendah dalam sejarah kepercayaan pada penegakkan hukum, namun juga menggelikan, dan membuat amarah memuncak (meski tidak sampai pada dorongan berbuat anarkis).

Gayus entah siapapun dia yang ada dalam foto itu, yang pasti dia telah berhasil membuat kita semakin sadar bahwa ada yang tidak beres di negara ini dan tentu saja kita menuntut "pemberesan" secepatnya dan dalam waktu yang sesingkat singkatnya. Tercatat pemberitaan tentang seseorang yang amat sangat mirip Gayus ini menyita perhatian kita.

Sosok lain minggu ini yang begitu menyita perhatian media adalah Barrack "Barry" Husein Obama Jr. Presiden Amerika Serikat yang ke 44 ini begitu lekat dalam ingatan orang Indonesia, pun sebaliknya, Obama seperti yang diakuinya adalah bagian dari republik ini. "Indonesia adalah bagian dari hidup saya," begitu kata Obama dalam pidatonya di Balairung Kampus UI Depok Kamis lalu. Obama dengan bahasa Indonesia yang masih lancar dan amat bersemangat berpidato dan tentang masa depan hubungan dan kerjasama Indonesia dengan negara yang dipimpinnya. Obama sekali lagi merasuki ruang ruang baca dan bahkan pribadi kita setelah pada tahun 2008 lalu menghentikan perlawanan John McCain seorang Republikan pada Pilpres AS.

Obama dan Gayus adalah dua kutub pemberitaan yang amat jauh berbeda, yang satu menjadi cerita dan buah pena kaum jurnalis karena kehebatannya dalam mengelola opini publik di bidang politik, yang satu lagi menjadi buah cerita dan pena karena "kehebatannya" menumpuk kekayaan hingga puluhan miliar rupiah di usia yang masih sangat muda. Obama dan Gayus telah menjadi ikon pemberitaan dan fenomenal di dunianya masing masing.

Obama Jr, seorang ayah dua putri, pemimpin negara adidaya, kehadirannya di tunggu publik sejak lama, setidaknya dua kali meng-cancel kunjungan ke Indoneisa dan dimaafkan, adalah bukti bahwa kedatangannya (kembali) ke Indonesia amat penting artinya. Beda dengan Bush Jr, pendahulu Obama, kedatangan Barry yang lengkap dengan keramahannya dan juga "Ke-Indonesia-anya membuat kita tertawa lepas, senang dan juga terharu (maupun pura pura) bahwa ia masih sedikit Indonesia. Obama bahkan memakan bakso, sate, kerupuk emping dan mengenang Sarinah dan Menteng Dalam untuk membuktikan itu bahwa ia masih menjadi bagian dari anak Jakarte. kita bangga dan bertepuk senang karenanya.

Lain halnya dengan Gayus, lengkapnya Gayus Halomoan Tambunan, anak muda yang sekilas terlihat cengengesan, tapi kaya raya itu telah membuat kita geram, marah dan begitu benci tidak hanya kepadanya, tapi juga kepada pengelola negara ini. Gayus telah menjungkir balikkan semua kepercayaan kita yang memang telah miring kepada aparat hukum, penyelenggara negara lainnya. Gayus juga telah meruntuhkan puing puing kepercayaan yang kita pertahankan sedemikian kuatnya, namun ia dengan menjentikkan jari meruntuhkan semuanya dalam sekejab. Kita geram dan memaki sejadi jadinya.

Sejenak marilah kita lupakan Gayus, Obama, atau duka lara akibat letusan Gunung Merapi di Jogja, Tsunami di Kabupaten Kepulauan Mentawai atau Banjir Bandang di Wasior Papua Barat, kita sejenak berpaling ke Cinta Laura. A ha, kenapa Cinta Laura, apa hubungannya antara Cinta Laura, dengan Obama, atau Gayus ?. Memang tidak ada hubungannya, Cinta Laura meski berbapak bule, bapaknya bukan American, atau ibunya bukan dari marga Tambunan seperti marga bapaknya Gayus. Cinta Laura menjadi menarik saya bahas karena Obama Jr.

Ya, Presiden AS yang anak Menteng Dalam itu begitu fasih berbahasa Indonesia, ucapannya seperti "Assalamualaikum", "Selamat Pagi", "Selamat Sore", "Terima kasih" dan bahkan "Pulang Kampung Nich" atau "Indonesia adalah bagian dari diri saya", dan tentu saja kalimat pamungkas, "Saya ingin mengungkapkan", memperlihatkan betapa ia masih Indonesian meski menjadi Presiden bagi jutaan anak kemenakan "Abang Sam".

Obama tidak seperti Cinta Laura yang dengan pronounce-nya terdengar aneh di telinga kita. Taruhan, jika Obama kita suruh bertanding pidato dalam bahasa Indonesia melawan Cinta Laura, saya yakin Obama lebih lancar berbahasa Indonesia dibanding si artis kemarin sore itu.

Lihat dan dengarkan suara Cinta Laura di TV, atau suaranya ketika menyanyi, awww, aneh benar bunyinya. Saya hanya berdoa semoga Cinta Laura mendapatkan guru bahasa Indonesia yang top dan hebat dan bukan guru bahasa Inggris yang pandir dan sok british. Semoga.

Sejenak saya juga merasa risih dengan sebagian besar kawan kawan yang saya jumpai, berbicara dalam bahasa Indonesia yang diselingi beberapa kosa kata Inggris, mereka menggunakan kata "at least", "I beg your pardon" atau kata kata lain yang tentu saja diucapkan dengan lidah melayu yang dipaksa berbahasa Inggris. Menangis rasanya jika mengingat itu.

Sok benarlah kita rasanya, orang Indonesia, berbicara dalam bahasa Inggris kepada sesama orang Indonesia. Semoga kita tetap menjadi orang Indonesia dalam keseharian kita yang dibuktikan dengan tingkah laku dan pola bicara.

Semoga para pemuda yang bersumpah pada 28 Oktober di tahun 1928 lalu di gedung Stovia tidak mengutuk kita karena sok British seperti ini. Amiin.

Sinetron...



Suatu hari sambil bagarah saya katakan pada istri saya, saya akan mengundang ustad dan jemaah masjid di dekat rumah untuk mau datang kerumah kami besok malam seusai Shalat Isya. “Saya mau mandoa salamaik”, itu yang saya katakan pada istri saya. Ia heran bukan kepalang, lalu dengan muka wajah serius dia bertanya kepada saya, selamatan untuk apa, memangnya saya dapat proyek baru atau berhasil, atau ada keuntungan lain hingga kita perlu menggelar selamatan. Saya langsung menjawab Selamatan atas berhentinya tayang sinetron yang tiap hari ditunggu dan ditontonya.

Yah, istri saya sangat menyukai sinetron, opera sabun yang bagi saya aneh, irasional dan tentu saja mengada-ada. Kami bahkan sampai berebut remote TV kalau sudah masuk pada jam tayang sinetron itu. Saya menyukai menonton siaran berita, talkshow atau dialog, sementara istri saya hampir setiap malam tidak mau melewatkan tayangan sinetron di tv swasta kesayanganya.

Kembali ke soal sinetron, saya sungguh tidak mengerti, apa yang ada dikepala penulis skenario atau mungkin produsernya, tayang setiap hari,tapi tidak ada satupun poin dari sinetron itu yang bisa dijadikan bahan untuk dicontoh, atau tokohnya dijadikan tauladan atau apa sajalah. Cuma ya itu tadi, selalu saja penontonnya ramai, bahkan hasil poling ACNielsen (lembaga pemeringkat siaran TV) yang saban Rabu sore merilis hasil polingnya menyebutkan sinetron yang sering ditonton oleh istri saya dan orang lain itu menempati peringkat yang cukup tinggi dengan audience share yang cukup tingi.

Saya tidak hendak dan tidak akan menyebutkan judul sinetron itu, takut saya, karena pasti banyak yang akan marah. Maklumlah, survey kecil kecilan saya di sekitar rumah membuktikan bahwa 7 dari 10 ibu ibu menjadi penonton sinetron itu setiap hari dan hanya 3 yang menonton sambil tidur tiduran. Jadi, jelas saya tidak mau digebuk 7 orang ibu ibu yang amat bernafsu untuk mengantam saya dan 3 orang yang ogah ogahan tadi. Alamat sengsara saya kalau itu terjadi.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan sinetron, dulu ketika TV swasta belum ada, TVRI sudah pula menyiarkan sinetron, saya ingat judulnya, “JENDELA RUMAH KITA” atau “RUMAH MASA DEPAN” tapi tidak setiap hari, hanya sekali sepekan dan ceritanya sangat bermutu. Memang ada tokoh jahat, ada pula tokoh baik hati, ada tokoh yang mengalasau se lalu ada pula tokoh yang serius.

Tapi kini dengan banyaknya TV swasta dimana hanya 2 stasiun TV yang mengklaim sebagai TV berita, maka maraklah ruang ruang keluarga kita dengan tayangan sineteron itu. Judulnya, jangan ditanya, bamacam, mulai dari yang pakai bahasa Indonesia, sampai yang sakarek ula sakarek baluik. Bahkan kalau kita akumulasikan jam per jam tayangan sinetron di televise swasta kita, mungkin lebih dari 80 persen tayangan adalah sinetron dan sisanya musik serta hanya kurang dari 10 persen yang bermuatan informasi pengetahuan.

Saya jadi ingat dengan Sinetron Rumah Masa Depan yang digarap oleh sutradara Ali Sahab. Seorang pekerja film jempolan yang mampu menghadirkan tontotan berkualitas bagi masyarakat meski hanya sekali dalam sepekan. Rumah Masa Depan, judulnya memang seperti mimpi, tapi isinya adalah kenyataan yang terjadi disekitar kita. Skenario yang membumi, tokoh yang tidak (sangat) kejam, meski jahat, namun tidak pula ada tokoh yang sangat baik meski berhati mulia.

Tapi lihatlah sinetron saat ini, peran orang jahat digambarkan sangat kejam, bahkan cenderung psikopat, lalu tokoh baiknya, digambarkan selalu teraniaya, kalah melulu dan menangis terus. Sinetron saat ini seperti mimpi, kekayaan tokohnya digambarkan sangat besar, perusahaan dimana mana tanpa dijelaskan kekayaan itu (perusahaan) berupa dan bergerak dibidang apa serta yang disajikan justru konflik perebutan harta tanpa jelas harta apa yang dijadikan obyek pertengkaran.

Saya jadi berpikir, dengan kemajuan zaman, mudahnya mengakses informasi serta ruang ruang diskusi yang kian terbuka lebar, kenapa kreatifitas kita makin rendah mutunya. Hari ini, setidaknya saya mendapatkan jawaban bahwa nafsu untuk berbuat telah mematikan urat kreatif kita dan yang tinggal hanya rutinitas kejar tayang.

Jadi kalau tidak bisa membeli mimpi menjadi orang kaya, baik hati dan pemaaf, maka buatlah sinetron sebanyak banyaknya, karena mimpi jauh lebih enak daripada bangun dan melihat kenyataan. Sakit.***

---terbit di HARIAN HALUAN Padang - edisi Minggu 5 Desember 2010---

Sia Sia



Di ujung waktu...
pada waktu yang telah kita sepakati...
aku mengais sisa hadirmu...
sia sia...
tak berdaya...

(BLP - Jogja 2010)

Friday, November 5, 2010

Surat Untuk Rara #2

Ra, lama rasanya tidak menulis tentangmu lagi nak. Kadang aku berpikir untuk apa menulis surat, tokh kau belum bisa membaca. Sehari-hari kulihat kau hanya membalik balik buku cerita bergambar, namun kau pasti tidak tahu apa arti tulisandibawah gambar itu.

Gadis kecilku yang cantik. Waktu terus berjalan nak, kau kian tumbuh besar, makin nakal, makin lincah dan juga makin bisa ndwut. Lucu sekali melihatmu saat ini. Tuhan memberkatimu gadis kecil. Meski kadang nggak tega melihat bundamu mulai kewalahan saat kau berontak dan mengamuk, namun aku membiarkannya karena duniamu adalah kebebasan dan bukan larangan ini/itu yang mengekang semua keinginanmu.

Ra, meski kau tidak bisa membaca, namun aku ingin tetap menulis sesuatu, besar harapanku saat kau bisa membaca nanti, atau saat kau bisa memahami arti kasih sayang, kau akan tahu betapa kasih dan sayang kami tertumpah padamu.

Nak, aku ingin bercerita sesuatu padamu. Mungkin ini lucu bagi sebagian orang, tapi sumpah, ini menakutkan bagiku saat itu dan kalau ku ingat aku jadi merasa berdosa pada nenekmu. Begini sayangku, dulu waktu usiaku masuk lima tahun, ibuku memasukkan aku ke sebuah taman kanak kanak di dekat rumah di Padang. namanya Taman Kanak Kanak Bhayangkari. Sepengetahuanku itu taman kanak kanak yang dikelola oleh istri polisi, entah kalau salah, yang aku tahu sekolah itu berada di komplek asrama polisi dan kebanyakan teman sekolahku bapaknya polisi.

Jujur aku tidak tahu kenapa, nenekmu mempercayakan pendidikan kanak kanak kami ke sekolah itu, padahal nenekmu pegawai negeri, dia guru. Semestinya aku disekolahkan di TK Pertiwi, namun demikian aku tidak pernah protes atas keputusan itu, aku fine fine saja.

Petualanganku dimulai Nak, bertemu banyak teman, tidak hanya Thomas Anderson,Ardian Hamdani, Paul, atau Rony saja, menyebalkan bertemu mereka tiap hari dirumah, di sekolah aku mengenal Miko, Rizky dan banyak lainnya. Tapi Tuhanmemberiku cobaan yang teramat berat.

Dia mempertemukanku dengan Bu Mien. Aku tidak tahu nama Bu Mien, panjangnya apa, entah Mience, entah Sutimin, entahlah, yang aku tahu dia kepala sekolah di TKitu, badanya besar, teramat besar, namun suaranya dan sikapnya pada kami sangat bertolak belakang dengan namanya. Ia sangat lembut dan penyayang.

Bu Mien ke sekolah memakai Vespa Sprint persis seperti punya kakekmu. Untukukuran tahun itu, Vespa adalah kendaraan setara Honda Revo saat ini. Cuma bedanya Vespa lebih serbaguna dan berkapasitas besar. Aku pernah merasakan manfaat Vespa itu, saat Bu Mien dengan nekat mengantar pulang delapan anak anak denganvespanya. Bisa kau bayangkan gadisku, bagaimana vespa sekecil itu mampu membawa delapan anak anak nakal dan sumringah, tapi sungguh Bu Mien manusia yang tangkas dan baik hati.

Nak, jauh di dalam hatiku, aku menyimpan ketakutan yang amat sangat pada Bu Mien. Aku tidak takut dimarahi, karena aku yakin dia tidak pernah marah senakal apapun kami di sekolah, tapi aku takut karena badannya yang besar.

Aku bahkan pernah bersembunyi dibawah tempat tidur nenekmu karena tidak mau berangkat ke sekolah. Karena kalau berangkat ke sekolah, resiko paling tinggi yang akan aku alami adalah "aku akan bertemu Bu Mien".

Kemarin, sesaat setelah sampai lagi di Padang, aku melihat papan nama sekolah itu di jalan raya dekat rumah kita. Ingatanku melayang ke masa lalu, dan tentu saja pada Bu Mien. Demi Tuhan gadis kecil, aku rindu masa masa dulu, tertawa, berlarian naik ayunan, main pelosotan, persis sama yang kau lakukan setiap pagi di TK Pertiwi dekat rumah nenekmu di kampung saat ikut serta mengantar Huda ke sekolah. Guru guru menolakmu jadi muridnya, karena usiamu belum usia TK.Aku ingin sekali saat ini bertemu Bu Mien (Insya Allah dia beumur panjang) namun jika Tuhan sudah memanggilnya, mari Nak sama sama kita doakan Wanita baik hati itu.

Begitulah Nak, surat sederhana ini, o ya, kamu sudah punya rumah rumahan bukan, dan tentu saja boneka yang lucu. Sementara bermainlah dulu dengan boneka dan rumah rumahanmu, jangan nakal pada Bunda, dan tentu saja Mam yang banyak, biar tambah Ndwut...

Okeh sayang...

mmmuach...Love U... 

Wednesday, August 25, 2010

Surat untuk Gadis Kecilku

Ra, Allah tidak pernah tidur nak, Ia selalu terbangun, tidak pernah mengantuk seperti kita, Ia selalu melihat, memperhatikan dan mendengar apa yang kita lakukan, dan kita katakan. Bahkan Allah mendengar doa doa dalam hati kita sayangku.

Doamu Nak, agar kita bisa berlebaran, menikmati Idul Fitri bersama adalah doa paling indah yang pernah aku dengar meski berantara sinyal kemajuan zaman. Gadis kecilku yang cantik, Insya Allah kita akan berlebaran nak, ke Masjid, berfoto bersama, main ke rumah nenek, aki, dan tentu saja kita akan berlarian di jalan menuju sawah yang biasa kita jadikan lokasi pemotretan. Ha a, anak kecil sepertimu pastilah bahagia sekali. Namun lebaran bukan baju baru sayang, bukan kue kue enak atau kemewahan, dan bukan pula pesta pora seolah lepas dari penjara waktu 30 hari.

Lebaran adalah doa doa kepada Yang Maha Kuasa agar kita diberi kembali kesematan untuk bertemu dengan Ramadhan tahun depan dan tahun berikutnya. Sayangku, ingin rasanya mengendongmu saat ini, mendengar ceritamu tentang ikan, kucing dan apa saja yang ingin kau ceritakan. Ingin juga rasanya menikmati gaya centilmu di depan kameraku dan tertawa lepas ketika melihat hal yang kau anggap lucu. Duniamu memang indah Nak. O ya, maafkan aku, aku pernah berkata pada bundamu, agar kau tidak menjadi besar dan bertambah umur, seusia sekarang saja, karena belum puasa rasanya melihatmu dengan gaya seperti ini. Tapi itu hanya bercanda gadis kecil, dan Tuhanpun pasti tertawa mendengarnya.

Ra, kamu masih ingat Nak ?, saat memberikan uang kepada kakek tua di depan Jam Gadang itu, atau saat keningmu berkerut melihat anak sebayamu digendong ibunya yang menadahkan tangan saat kita berhenti di lampu merah. Mereka juga bagian dari kita sayang cantik...Jadi berlebaranlah dengan sederhana seperti Muhammad SAW ajarkan kepada Fatimah Azzahra.

Sabtu ini Insya Allah kita akan bertemu lagi, berdoalah semua akan berjalan baik, kita akan main bersama, bersepeda, berfoto, melihat ikan di kolam, dan ritual lain yang biasa kita lakukan saat bersama. Anakku, jangan nakal, jangan bandel karena anak nakal dan bandel tidak masuk SORGA.

Okeh...
Peluk cium untukmu gadis kecil..
Love u...
Kenapa...?

Sayang, hari hariku menjadi asing sekarang. tak ada lagi cerita tentang cinta, airmata, rindu dan kehidupan. yang terjadi adalah istirahat yang dipaksakan. kenapa kita harus dipisahkan, dan kenapa kita harus menerima takdir ini, dan kenapa kita kenapa dipertemukan, kenapa? kenapa? kenapa?...