Wednesday, November 10, 2010
Friday, November 5, 2010
Surat Untuk Rara #2
Ra, lama rasanya tidak menulis tentangmu lagi nak. Kadang aku berpikir untuk apa menulis surat, tokh kau belum bisa membaca. Sehari-hari kulihat kau hanya membalik balik buku cerita bergambar, namun kau pasti tidak tahu apa arti tulisandibawah gambar itu.
Gadis kecilku yang cantik. Waktu terus berjalan nak, kau kian tumbuh besar, makin nakal, makin lincah dan juga makin bisa ndwut. Lucu sekali melihatmu saat ini. Tuhan memberkatimu gadis kecil. Meski kadang nggak tega melihat bundamu mulai kewalahan saat kau berontak dan mengamuk, namun aku membiarkannya karena duniamu adalah kebebasan dan bukan larangan ini/itu yang mengekang semua keinginanmu.
Ra, meski kau tidak bisa membaca, namun aku ingin tetap menulis sesuatu, besar harapanku saat kau bisa membaca nanti, atau saat kau bisa memahami arti kasih sayang, kau akan tahu betapa kasih dan sayang kami tertumpah padamu.
Nak, aku ingin bercerita sesuatu padamu. Mungkin ini lucu bagi sebagian orang, tapi sumpah, ini menakutkan bagiku saat itu dan kalau ku ingat aku jadi merasa berdosa pada nenekmu. Begini sayangku, dulu waktu usiaku masuk lima tahun, ibuku memasukkan aku ke sebuah taman kanak kanak di dekat rumah di Padang. namanya Taman Kanak Kanak Bhayangkari. Sepengetahuanku itu taman kanak kanak yang dikelola oleh istri polisi, entah kalau salah, yang aku tahu sekolah itu berada di komplek asrama polisi dan kebanyakan teman sekolahku bapaknya polisi.
Jujur aku tidak tahu kenapa, nenekmu mempercayakan pendidikan kanak kanak kami ke sekolah itu, padahal nenekmu pegawai negeri, dia guru. Semestinya aku disekolahkan di TK Pertiwi, namun demikian aku tidak pernah protes atas keputusan itu, aku fine fine saja.
Petualanganku dimulai Nak, bertemu banyak teman, tidak hanya Thomas Anderson,Ardian Hamdani, Paul, atau Rony saja, menyebalkan bertemu mereka tiap hari dirumah, di sekolah aku mengenal Miko, Rizky dan banyak lainnya. Tapi Tuhanmemberiku cobaan yang teramat berat.
Dia mempertemukanku dengan Bu Mien. Aku tidak tahu nama Bu Mien, panjangnya apa, entah Mience, entah Sutimin, entahlah, yang aku tahu dia kepala sekolah di TKitu, badanya besar, teramat besar, namun suaranya dan sikapnya pada kami sangat bertolak belakang dengan namanya. Ia sangat lembut dan penyayang.
Bu Mien ke sekolah memakai Vespa Sprint persis seperti punya kakekmu. Untukukuran tahun itu, Vespa adalah kendaraan setara Honda Revo saat ini. Cuma bedanya Vespa lebih serbaguna dan berkapasitas besar. Aku pernah merasakan manfaat Vespa itu, saat Bu Mien dengan nekat mengantar pulang delapan anak anak denganvespanya. Bisa kau bayangkan gadisku, bagaimana vespa sekecil itu mampu membawa delapan anak anak nakal dan sumringah, tapi sungguh Bu Mien manusia yang tangkas dan baik hati.
Nak, jauh di dalam hatiku, aku menyimpan ketakutan yang amat sangat pada Bu Mien. Aku tidak takut dimarahi, karena aku yakin dia tidak pernah marah senakal apapun kami di sekolah, tapi aku takut karena badannya yang besar.
Aku bahkan pernah bersembunyi dibawah tempat tidur nenekmu karena tidak mau berangkat ke sekolah. Karena kalau berangkat ke sekolah, resiko paling tinggi yang akan aku alami adalah "aku akan bertemu Bu Mien".
Kemarin, sesaat setelah sampai lagi di Padang, aku melihat papan nama sekolah itu di jalan raya dekat rumah kita. Ingatanku melayang ke masa lalu, dan tentu saja pada Bu Mien. Demi Tuhan gadis kecil, aku rindu masa masa dulu, tertawa, berlarian naik ayunan, main pelosotan, persis sama yang kau lakukan setiap pagi di TK Pertiwi dekat rumah nenekmu di kampung saat ikut serta mengantar Huda ke sekolah. Guru guru menolakmu jadi muridnya, karena usiamu belum usia TK.Aku ingin sekali saat ini bertemu Bu Mien (Insya Allah dia beumur panjang) namun jika Tuhan sudah memanggilnya, mari Nak sama sama kita doakan Wanita baik hati itu.
Begitulah Nak, surat sederhana ini, o ya, kamu sudah punya rumah rumahan bukan, dan tentu saja boneka yang lucu. Sementara bermainlah dulu dengan boneka dan rumah rumahanmu, jangan nakal pada Bunda, dan tentu saja Mam yang banyak, biar tambah Ndwut...
Okeh sayang...
mmmuach...Love U...
Wednesday, August 25, 2010
Ra, Allah tidak pernah tidur nak, Ia selalu terbangun, tidak pernah mengantuk seperti kita, Ia selalu melihat, memperhatikan dan mendengar apa yang kita lakukan, dan kita katakan. Bahkan Allah mendengar doa doa dalam hati kita sayangku.
Doamu Nak, agar kita bisa berlebaran, menikmati Idul Fitri bersama adalah doa paling indah yang pernah aku dengar meski berantara sinyal kemajuan zaman. Gadis kecilku yang cantik, Insya Allah kita akan berlebaran nak, ke Masjid, berfoto bersama, main ke rumah nenek, aki, dan tentu saja kita akan berlarian di jalan menuju sawah yang biasa kita jadikan lokasi pemotretan. Ha a, anak kecil sepertimu pastilah bahagia sekali. Namun lebaran bukan baju baru sayang, bukan kue kue enak atau kemewahan, dan bukan pula pesta pora seolah lepas dari penjara waktu 30 hari.
Lebaran adalah doa doa kepada Yang Maha Kuasa agar kita diberi kembali kesematan untuk bertemu dengan Ramadhan tahun depan dan tahun berikutnya. Sayangku, ingin rasanya mengendongmu saat ini, mendengar ceritamu tentang ikan, kucing dan apa saja yang ingin kau ceritakan. Ingin juga rasanya menikmati gaya centilmu di depan kameraku dan tertawa lepas ketika melihat hal yang kau anggap lucu. Duniamu memang indah Nak. O ya, maafkan aku, aku pernah berkata pada bundamu, agar kau tidak menjadi besar dan bertambah umur, seusia sekarang saja, karena belum puasa rasanya melihatmu dengan gaya seperti ini. Tapi itu hanya bercanda gadis kecil, dan Tuhanpun pasti tertawa mendengarnya.
Ra, kamu masih ingat Nak ?, saat memberikan uang kepada kakek tua di depan Jam Gadang itu, atau saat keningmu berkerut melihat anak sebayamu digendong ibunya yang menadahkan tangan saat kita berhenti di lampu merah. Mereka juga bagian dari kita sayang cantik...Jadi berlebaranlah dengan sederhana seperti Muhammad SAW ajarkan kepada Fatimah Azzahra.
Sabtu ini Insya Allah kita akan bertemu lagi, berdoalah semua akan berjalan baik, kita akan main bersama, bersepeda, berfoto, melihat ikan di kolam, dan ritual lain yang biasa kita lakukan saat bersama. Anakku, jangan nakal, jangan bandel karena anak nakal dan bandel tidak masuk SORGA.
Okeh...
Peluk cium untukmu gadis kecil..
Love u...
Sayang, hari hariku menjadi asing sekarang. tak ada lagi cerita tentang cinta, airmata, rindu dan kehidupan. yang terjadi adalah istirahat yang dipaksakan. kenapa kita harus dipisahkan, dan kenapa kita harus menerima takdir ini, dan kenapa kita kenapa dipertemukan, kenapa? kenapa? kenapa?...
Izinkan aku menuliskan kisah ini, sebuah kisah yang pernah terjadi antara kita, sebuah kisah sedih yang memang seharusnya kita alami dan begitu juga harus kita akhiri. Kalimat pertama, izinkan aku meminta maaf padamu, padanya dan pada mereka. Untuk semua yang terjadi, telah terjadi dan mungkin akan terjadi karena kesalahan ini.
Sayangku, izinkan aku menuliskan kisah ini, hanya kali ini, dan untuk hari ini saja, besok bukan waktu yang tepat, apalagi lusa, atau kemudian hari. Luka begitu lebar untuk kututupi, darahnya begitu deras mengalir yang tak sanggup ku hentikan. Kita tentu tidak mau mati sia sia bukan.
Hanya sebuah kisah pendek, tidak panjang dan tidak akan menghabiskan lembar lembar sejarah hidupmu. Hanya tentang aku, kau dan dia. Kisah kita. Kisah tentang sepi, perih dan juga (mungkin) tawa bahagia. Entahlah...
Demikianlah sayangku, aku tak sanggup lagi menulis, simpan surat ini baik baik, jangan kau beritahu mereka, cukup kita yang tahu. Salam sayang selalu untukmu...
Aku...
Kau masih saja memaksa, sementara aku telah menuntaskan semua pencarian jejak aksara untuk merangkai kata yang pantas, sudahlah...
Begini saja, seperti kataku, pejamkan matamu, sebut namaku sesaat, kau pasti akan temukan jawabannya tanpa perlu memaksa lelaki ini...cinta bukan untuk diterjemahkan sayang manisku, cinta untuk kita rasa,dan miliki utuh selamanya...percayalah, aku untukmu, dan sebaliknya....
Wednesday, July 14, 2010
Punah benar rasanya saya hari ini, lemah seluruh tulang belulang, kenapa tidak, saya dituduh melakukan yang tidak tidak, benar benar sakit hati saya, Iba benar tepatnya. Uang tak ada, kalah pula dalam pilkada kena tuduh pula lagi...Tuhan dan saya sajalah yang tahu apa yang terjadi pada saya.
Belum selesai merenungi nasib, tadi malam, saya bicara kepada istri, berapa uang dalam tabunganya yang tertinggal, ia menjawab hanya cukup untuk membayar tagihan listrik, PDAM, beli air minum galon dan uang lauk pauk sampai akhir bulan. Untuk susu dna bubur anak aman sudah, karena stok masih banyak.
Untunglah saya tidak pengopi dan perokok, saya merokok itupun sekali kali saja, gratis pula. Tuhan baik sekali mempertemukan saya dengan rokok hanya pada waktu waktu ada yang membayarkan rokok menthol saya yang kecil dan menarik itu.
Istri saya, sambil menyetrika baju yang akan saya pakai ke tanah Jawa ini terus bicara, seperti senapan mesin mulutnya itu, tidak henti mengumpat pemerintah yang menaikan tarif listrik, akibatnya ia tidak bisa menyimpan uang lebih banyak karena harga sembako ikut ikutan terbang ke langit, O ya..beberapa waktu lalu, pedagang ayam di kota Padang ini berdemo, ada ada saja tingkah mereka, menolak berjualan ayam, padahal anak saya yang lagi lucu lucu itu sangat suka makan ayam, istri saya juga penggemar sop ceker. Saya sering mencimeehnya karena makan ceker. "Yang dimakan orang sajalah yang kamu makan, itu kata saya sekali kepadanya yang dijawab sambil memicingkan mata menandakan dia tidak setuju sama sekali.
Soal harga Sembako, memang itulah keluhan utama kaum hawa, termasuk istri saya itu. Kalau beras amanlah kita, sawah warisan nenek saya di Pariaman cukup luas untuk memberikan pasokan beras ke rumah, namun kalau minyak goreng, apa mau dikata, kerambil yang tumbuh di sekitar rumah kami di kampung sudah meranggas, hidup malas mati takut pula. Lagipula, istri saya pasti tidak bisa membuat minyak goreng dari kelapa. Saya jamin itu, sepuluh jari di kepala..
Tapi sembako khan bukan hanya beras dan minyak goreng, ada pula jenis lain yang ikut terbang tinggi. Akhirnya pedagang jadi kreatif mereka mengoplos berbagai jenis sembako itu. Haaa...ini yang jadi penyakit, tadi saya baca berita di internet. Ada pedagang cabai yang kreatif mengoplos cabai dagangannya dengan cabai busuk. Sakit hati saya membaca berita itu, takut juga ada, jangan jangan istri saya telah membeli cabai oplosan itu pula dan memakannya dengan lahap. Hallah sudah, kalau itu terjadi, bagaimana dengan anak saya, kalau ibunya sakit gara gara makan cabai oplosan. Pasti sansai jadinya, suami tidak dirumah, badan sakit, anak kecil pula merengek minta di gendong, saya berpikir itu terjadi pada istri saya.
Dalam hati saya berdoa saja, semoga harga harga ini tidak makin terbang tinggi, kasihan istri saya, uang bulanannya pasti tidak cukup untuk membeli lauk pauk, dan kebutuhan rumah tangga lainnya, dan jangan sampai ia terpengaruh berita di TV soal ibu ibu demo gara gara harga sembako naik. Kalau istri saya ikut demo ke DPRD dan Balaikota, pusing sangat saya nanti. Masa saya wartawan meliput istri saya demo ke Balaikota membawa panci dan periuk nasi sambil menggendong anak...Semoga Tuhan menjauhkan istri saya dari TV dan Infotainment dan saya dari fitnah yang tidak bertanggung jawab. Amiin...