Monday, June 24, 2013

Surat Untuk Rara

Ra, lama rasanya tidak menulis tentangmu lagi nak. Kadang aku berpikir untuk apa  menulis surat, tokh kau belum bisa membaca. Sehari-hari kulihat kau hanya membalik balik buku cerita bergambar, namun kau pasti tidak tahu apa arti tulisan dibawah gambar itu.

Gadis kecilku yang cantik. Waktu terus berjalan nak, kau kian tumbuh besar, makin nakal, makin lincah dan juga makin bisa ndwut. Lucu sekali melihatmu saat ini. Tuhan memberkatimu gadis kecil. Meski kadang nggak tega melihat bundamu mulai kewalahan saat kau berontak dan mengamuk, namun aku membiarkannya karena duniamu adalah kebebasan dan bukan larangan ini/itu yang mengekang semua keinginanmu.

Ra, meski kau tidak bisa membaca, namun aku ingin tetap menulis sesuatu, besar harapanku saat kau bisa membaca nanti, atau saat kau bisa memahami arti kasih sayang, kau akan tahu betapa kasih dan sayang kami tertumpah padamu.

Nak, aku ingin bercerita sesuatu padamu. Mungkin ini lucu bagi sebagian orang, tapi sumpah, ini menakutkan bagiku saat itu dan kalau ku ingat aku jadi merasa berdosa pada nenekmu. Begini sayangku, dulu waktu usiaku masuk lima tahun, ibuku memasukkan aku ke sebuah taman kanak kanak di dekat rumah di Padang. namanya Taman Kanak Kanak Bhayangkari. Sepengetahuanku itu taman kanak kanak yang dikelola oleh istri polisi, entah kalau salah, yang aku tahu sekolah itu berada di komplek asrama polisi dan kebanyakan teman sekolahku bapaknya polisi.

Jujur aku tidak tahu kenapa, nenekmu mempercayakan pendidikan kanak kanak kami ke sekolah itu, padahal nenekmu pegawai negeri, dia guru. Semestinya aku disekolahkan di TK Pertiwi, namun demikian aku tidak pernah protes atas keputusan itu, aku fine fine saja.

Petualanganku dimulai Nak, bertemu banyak teman, tidak hanya Thomas Anderson,Ardian Hamdani, Paul, atau Rony saja, menyebalkan bertemu mereka tiap hari dirumah, di sekolah aku mengenal Miko, Rizky dan banyak lainnya. Tapi Tuhanmemberiku cobaan yang teramat berat.

Dia mempertemukanku dengan Bu Mien. Aku tidak tahu nama Bu Mien, panjangnya apa, entah Mience, entah Sutimin, entahlah, yang aku tahu dia kepala sekolah di TK itu, badanya besar, teramat besar, namun suaranya dan sikapnya pada kami sangat bertolak belakang dengan namanya. Ia sangat lembut dan penyayang.

Bu Mien ke sekolah memakai Vespa Sprint persis seperti punya kakekmu. Untukukuran tahun itu, Vespa adalah kendaraan setara Honda Revo saat ini. Cuma bedanya Vespa lebih serbaguna dan berkapasitas besar. Aku pernah merasakan manfaat Vespa itu, saat Bu Mien dengan nekat mengantar pulang delapan anak anak denganvespanya. Bisa kau bayangkan gadisku, bagaimana vespa sekecil itu mampu membawa delapan anak anak nakal dan sumringah, tapi sungguh Bu Mien manusia yang tangkas dan baik hati.

Nak, jauh di dalam hatiku, aku menyimpan ketakutan yang amat sangat pada Bu Mien. Aku tidak takut dimarahi, karena aku yakin dia tidak pernah marah senakal apapun kami di sekolah, tapi aku takut karena badannya yang besar.

Aku bahkan pernah bersembunyi dibawah tempat tidur nenekmu karena tidak mau berangkat ke sekolah. Karena kalau berangkat ke sekolah, resiko paling tinggi yang akan aku alami adalah "aku akan bertemu Bu Mien".

Kemarin, sesaat setelah sampai lagi di Padang, aku melihat papan nama sekolah itu di jalan raya dekat rumah kita. Ingatanku melayang ke masa lalu, dan tentu saja pada Bu Mien. Demi Tuhan gadis kecil, aku rindu masa masa dulu, tertawa, berlarian naik ayunan, main pelosotan, persis sama yang kau lakukan setiap pagi di TK Pertiwi dekat rumah nenekmu di kampung saat ikut serta mengantar Huda ke sekolah. Guru guru menolakmu jadi muridnya, karena usiamu belum usia TK. Aku ingin sekali saat ini bertemu Bu Mien (Insya Allah dia berumur panjang) namun jika Tuhan sudah memanggilnya, mari Nak sama sama kita doakan Wanita baik hati itu.

Begitulah Nak, surat sederhana ini, o ya, kamu sudah punya rumah rumahan bukan, dan tentu saja boneka yang lucu. Sementara bermainlah dulu dengan boneka dan rumah rumahanmu, jangan nakal pada Bunda, dan tentu saja Mam yang banyak, biar tambah Ndwut...

Okeh sayang...
mmmuach...Love U... 

Suka ·  · Berhen

Monday, June 17, 2013

37... Bukan angka ya kecil...

Bismmiliiah, mari memulai sesuatu kelanjutan...


Monday, June 10, 2013

"URANG GAEK KA ILANGAN SENTER"

Semua ini gegara dia...

Monday, June 3, 2013

Surat Untuk Rantau-Net


Yg terhormat Dunsanak kasado alah e...

Maaf ambo sato juo baliak, tapi mungkin iko nan terakhir, sebab bagi ambo perdebatan iko ndak produktif lai. Sebab diantaro awak nan babeda pandapek, batahan di masiang masiang posisi. Itu bagus, aratinyo awak SEPAKAT UNTUK TIDAK SEPAKAT. Sah. itulah demokrasi minang. Namun ado suatu hal yang alun ambo sampaikan, yaitu soal Pak MN dan Irman, Pak MN iko adalah orang tuo, umuanyo alah sepuh, samantaro Uda Irman itu masih 50-an saumua jo anak dan minantu Pak MN sendiri. malah Antaro Uda Irman dan Uda Indra Jaya Januar itu pernah babisnis basamo. Labiah dari itu, Pak MN ko pernah pulo basamo samo jo Irman di MPR dan DPD. 

Bagi ambo nan cukuik disasai adalah, kenapa Pak MN mambuek surek terbuka iko, itu kan samo jo artinyo mampamalukan Irman ditangah balai rami. Sebagai orang tuo Pak MN bisa mamanggia Irman, atau bahkan mendatanginyo, tokh kalau Pak MN datang ka DPD itu beliau indak ka dipareso Satpam bagai do mah, sebab 10 tahun di Gedung Senayan, tantu lah hafal Satpam jo wajah orang tuo awak ko. Tapi kok hal itu tidak dilakukan Pak MN ?, beliau lebih memilih membuka ke ranah publik suatu hal yang (bagi ambo) belum sepatutnya disampaikan ka muko umum saat belum menjadi konsumsi umum. antah kok manuruik Pak MN babeda. 

Namun apo yang dilakukan Pak MN ?, manuruik ambo adalah memberi pukulan pada Irman ditangah orang rami. bagi ambo ndak arif hal itu dilakukan. Pak MN ko memang luruih, tapi tantu ndak etis pulo caro mode itu dilakukan thdp Irman. Ambo bicara dengan Irman itu lamo di ruangan beliau, ambo danga kalimat beliau soal Lippo ko, soal kehadiran di acara Ground Breaking itu. 

Orang Minangkabau adalah orang yang besar dari berdialektika, berdebat dan berseteru kalimat. Minangkabau terkenal sebagai gudangya intelektual dan juru runding andal. Hatta dan Syahril pernah berdebat, Natsir dan Aidit juga melukan itu. Namun keduanya tidak saling mempermalukan. Elegan cari yang mereka pakai, YANG TUA MENGHARGAI YANG MUDA, YANG MUDA MENGHORMATI YANG TUA, itu prinsip, kalau saling hormati dan menghargai itu yang tidak, ada itu artinyo alah NDAK BAPAMATANG SAWAH LAI. samo je kasado alah e... Kami nan mudo mudo ko kok salah, jan lah disorak an ditangah pasa rami, namun panggia, pilin pusek e sampai ta angkek tapak kaki e tu, labiah bisa kami tarimo daripado disorak i ditangah pasa, ilang lo parasan kami, ketek pulo jadinyo nan tuo tuo itu dek kami. Dewasalah bersikap. kalau istilah awak awak mudo kini, KOK KITA SEPERTI ORANG YANG KURANG PIKNIK YA...??? he he he

Ambo minta maaf ka Pak MN babeda pandapek bagi ambo biaso, pun ka palanta ko ambo juo minta maaf, ambo kiro ikuiknyo ambo bakomentan di RN sudah membuka ruang dialog dan memberi wacana lain, semoga. 

Kapado Pak Syaaf Bahar, Mak Ajo Buyuang (ZB), Mak Uncu Dutamardin, Pak Sutan Sinaro, Uda Ibnu Kamang, Mak Ngah Syamsir Syarief, Uda Miko, Sutan Nofend, Sanak Reza dan kadaso alah e. ambo pamit kambali duduak di suduik lapau, bialah kami mandanga je, sato galak kalao ado nan lawak, atau taibo kalau ado ado nan sadang manangih. 

Salam hormat dari Ambo salam takzim untuak para orang tuo.
Billahitaufik wallhidayah
Wassalamualaikum Warrahmatullahiwabarakaatuh

Sunday, June 2, 2013

LIPPO GROUP DAN MOCHTAR NAIM


Beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah Surat Terbuka dari Cendikiawan Dr. Mochtar Naim yang ditujukan kepada H. Irman Gusman Ketua DPD-RI yang juga anggota DPD utusan Propinsi Sumarera Barat. Surat tersebut, beredar dan menjadi bahan perdebatan di milis Rantau Net tempat dimana Pak Mochtar Naim menuliskannya pertama kali. Bagi saya apa yang ditulis oleh Mochtar Naim itu sangatmenggoda untuk dikomentari. Seiring berita tentang investasi Group Lippo di Kota Padang yang telah juga menjadi pro dan kontra. Surat Terbuka itu ditujukan kepada Ketua DPD RI, Irman Gusman, yang berisi tuduhan dan sindiran keras.

Setelah mencermati paragraf demi paragraf dari Surat Terbuka tersebut, saya akhirnya memberikan beberapa catatan penting.  Hal itu saya lakukan bukan bermaksud untuk membela Group LIPPO, Irman Gusman atau bahkan bersetuju dengan Dr. Mochtar Naim, tetapi hanya ingin menyumbangkan pemikiran atas perkara yang sedang dihadapi.


Saya tidak punya kepentingan apa-apa terhadap persoalan pembangunan RS Siloam dari Group Lippo di Jalan Khatib Sulaiman itu, namun tulisan Dr. Mochtar Naim menurut saya terkesan tendensius dalam menyampaikan maksud. Sungguh tulisan itu berbeda dengan tulisan Mochtar Naim selama ini. Tulisan itu menilai James T. Riady Pimpinan Group Lippo menjalankan misi kristenisasi di bumi Ranahminang.


“Semua orang tahu, bahwa RS Siloam dan sekolah tersebut adalah bahagian yang tak bisa dilepaskan dari upaya James T Riady, sebagai bahagian dari upaya kristenisasi yang dilakukannya di mana-mana.”


Kalimat ini sangat tak patut keluar dari salah seorang sosiolog, cendikiawan yang sangat dihormati di jagad akademik. Tokoh sekaliber Mochtar Naim rasanya tidak patut untuk menulis seperti itu, dan juga saya sangat menyayangkan bisa terjebak dengan anggapan itu. Sungguh bukan sebuah tulisan yang elok.


Saya mengenal Pak Mochtar Naim secara dekat, sejak ia menjadi Ketua DPW Partai Ummat Islam (PUI) Sumbar 1998-2000. Bahkan saat ia menjadi anggota MPR-RI dan anggota DPD RI. Tidak itu saja, saya juga mengenal keluarga besarnya. Atas dasar itu, Saya terkejut, sekaligus kecewa ketika Surat Terbuka diupload ke milis, kenapa pemikiran orang yang saya kagumi itu bisa seperti ini. Ada apa?


Saya sangat menghormati Mochtar Naim. Ia inspirasi anak muda seperti saya. Ketika rezim orde baru berkuasa, ia memiliki sikap yang mampu membawa magnet idealisme anak-anak muda seperti saya untuk melawan. Artinya, ada alasan tertentu bagi seorang Mochtar Naim sampai pada silogisme yang demikian pada Surat Terbuka itu. Tetapi, jika saya ingin setuju dengan pendapat itu, Mochtar Naim  haruslah memaparkan bukti konkrit dari apa yang telah dituduhkan kepada James T. Riady. Kalau tidak ada, minta maaflah! Tidak elok, menuduh seperti itu.


Iman dan Investasi


Kita telah memilih jalan pasar bebas! Sebuah sikap siap tidak siap menerima bagaimana pasar itu berhak untuk siapa saja yang siap menawarkan kehadapan public, yang tentu saja semua harus dimulai dan beranjak dari aturan-aturan yang berlaku serta mesti kita hormati. Bukankah kita orang Minangkabau ini terkenal sangat Egaliter dan itu selalu yang dibangga banggakan.


Ketakutan atas misi kristenisasi di Ranahminang patut dimaklumi dan itu menjadi ranah lain,  tetapi soal investasi adalah domain lain. Kita tidak bisa mencampur-adukannya tanpa menggunakan akal sehat? Rancu jadinya nanti jika kita mencampur adukkan antara sebuah aktifitas ekonomi dengan isu isu SARA. 

Investasi Group Lippo, seperti diberitakan media massa, mencapai Rp. 1,3 Triliun --- sebuah angka yang besar. Mengucurkan dana sebesar itu, bukan perkara mudah dalam konteks hari ini, apalagi di ranahminang. Dimana isu gempa, isu tanah ulayat, terus menghantui investor. 


Tidak itu saja, effect dari investasi sebesar itu nantinya diberitakan akan akan mampu menyerap paling tidak 4000-an tenaga kerja dalam berbagai bidang. Mulai dari dokter, perawat, tenaga professional bidang perhotelan dan segala macamnya. Dalam konteks ini, ia menjadi ranah ekonomi pembangunan yang positif! Rembesan sebuah badan usaha besar yang hadir, akan mempengaruhi harga properti di Kota Padang. Besar kecil akan terimbas tentunya. Ini adalah harapan besar bagi anak kemanakan yang hidup di tanah penuh terror bencana ini.



Jika saja pihak Group Lippo mulai memikirkan isu sensitif ini, lalu menarik diri, dalam bahasa anak mudanya Ngambek  lalu membatalkan investasinya, bukankah ini bisa memupuskan harapan besar itu? Saya sampai bercanda dengan teman, Kemana uang itu akan kita cari dan bagaimana pula rasa hati anak anak yang berharap akan mendapatkan pekerjaan.


Gerakan Lippo Group yang bersedia menanamkan uangnya untuk berinvestasi di Sumbar, secara tidak langsung juga akan member stimulus bagi investor lain agar penanaman modal di Sumbar terus bertambah dari waktu ke waktu. Angka kemiskinan dan pengangguran bisa ditekan. Ingat, gempa bumi 2005, 2007 dan 2009 telah meluluhlantakkan keadaan. Tidak hanya bangunan tapi juga mental anak kemanakan.


Lalu, apakah kita bisa terpancing saja dengan isu SARA seperti Kristenisasi ini? Mana bukti atas ketakutan itu? Kita tanpa sadar mencerabut diri dari akar pemikiran ranah sendiri, yang bisa menerima perubahan. Apakah dengan pembangunan Sekolah Pelita Harapan, RS Siloam, sebagai alat untuk mengkristenkan orang Minang? Naif sekali tuduhan ini. Begitu mudahkah aqidah kita berubah?


Soal data Pak Mochtar tentang turunnya angka penganut Islam di Sumbar, tidak sepenuhnya bisa dipercaya disebabkan oleh adanya kritenisasi, bisa jadi jumlah kelahiran factor lain. Seperti angka kelahiran dan perpindahan penduduk. Pak Mochtar tentu tahu bahwa kesulitan ekonomi di kampung menyebabkan banyak diantara sanak saudara kita bermigrasi ke daerah lain mencari penghidupan. 


Cobalah cek ke RS Siloam yang sudah ada, apakah ada pasien muslim yang dirawat di RS itu lalu kemudian mengganti aqidahnya seusai dirawat ? Bahkan kalau tidak salah, salah satu putra Pak MN Uda Emil Naim pernah pula dirawat di RS Siloam Gleneangles dulu. Puteri beliau Meuthia juga lahir di Mount Elizabeth Hospital Singapura, ia tetap muslim sampai saat ini bahkan berhijab. Tidak ada yang salah dengan RS Siloam itu. Tidak ada. Ini investasi bukan pekerjaan sesat. 


Tuduhan ke Irman Gusman

Lalu soal tuduhan kepada Irman Gusman, politisi Ranahminang yang juga Ketua DPD-RI itu, terlepas dari pandangan masih ada kekurangan yang mungkin saja masih terasa, tetapi paling tidak, ada yang patut dibanggakan dari ranah ini. Masih ada putra terbaik yang menjadi penerus dari orang-orang besar dari Ranahminang ini.

Pak Mochtar memang menggunakan kata “Kalaupun” namun, alangkah terkejutnya kita, ada kalimat seperti itu dari Pak Mochtar Naim terhadap Irman Gusman. Irman dalam surat Pak Mochtar ditakutkan menerima bantuan terkait dana dari Group Lippo untuk menjadi Calon Presiden. Sinyalemen ini sangat terasa lebay dan tidak mendasar.

Saya kenal Irman Gusman juga seperti mengenal Mochtar Naim. Bahkan saya mengenalnya lebih dekat dari Pak Mochtar Naim mengenalnya. Meski keduanya pernah bersama-sama di DPD. Membaca buku Irman Gusman yang ditulis Uda Hasril Chaniago, kita tahu, Irman Gusman itu anak orang kaya. Dia sudah punya uang berlebih semenjak kecil. Menjadi Calon Presiden yang dilakukannya saat ini adalah untuk berbuat pada negerinya. Apa kita tidak bisa sedikit berbangga atas ini.

Saya juga tidak yakin Irman Gusman terpilih! Catat itu.  Jujur saja, seperti yang pernah ia sampaikan kepada saya, meski 100 persen pemilih Sumbar memilih Irman Gusman sebagai Presiden pada pilpres 2014 yang akan datang, tidak jaminan dia akan menang di Pilpres. Saya pribadi melihat langkah Uda Irman Gusman adalah langkah untuk menunjukkan dan mengajak anak-anak muda lainnya untuk maju, agar tercipta regenerasi politik politisi di NKRI ini. 

Rasionalitas Persoalan

Atas semua itu, kita memang akhirnya dituntut tidak sekedar menerima berita sekilas dan langsung menelannya bulat-bulat. Investasi punya cara kerja tersendiri dalam kehidupan ini. Sementara, iman ada di dada dan jadi pegangan diri. Dua hal yang berbeda tidak bisa serta merta punya hubungan yang linear. Kalaupun ada, kita patut curiga dan menyelesaikannya. Tidak bisa menduga dan memvonis sesegera mungkin.

Kearifan budaya kita menghendaki kita agar cerdas menyikapi masalah. Tidak mudah diprovokasi dan terpancing emosi yang justru akan merugikan lebih banyak pihak. Bisa kita bayangkan, pembangunan Mall, Hotel, Sekolah dan Rumah Sakit ini tentu akan membutuhkan setidaknya 60 sampai 70 persen konten local seperti pasir, tanah, batu bata, Semen dan lain sebagainya. Sebuah simbiosis mutualisme akan terjadi dengan sendirinya.


Bagi saya, Pak Mochtar Naim, adalah seorang ilmuan hebat, beliau menjalani kehidupan di banyak negara di belahan dunia ini, kuliah di Jogja, melanjutkan study S2 Montreal Kanada, lalu berpindah ke New York, Singapura, Jepang lama di Makassar, lalu pernah pula ke Inggris, dan Amerika tentu sudah banyak pengalaman. Karena sebagian besar hidup dilalui di luar negeri, banyak ilmu dan pengalaman yang didapatkan. 

Agaknya, perlulah berbagi dengan kami yang muda-muda ini. Berikanlah kearifan.. Apakah sekali ini, sedikit tergelincir dari logika akademik, lalu pincang dan sumbang dalam berpendapat? Semoga itu sebenarnya yang terjadi. Salam hormat! [] 



Friday, January 11, 2013

Ibu
(Sebuah catatan yang diulang)


Saya ingat benar 20 tahun yang lalu itu, saat tengah malam di Rumah Sakit M Djamil Padang, kamar Unit Gawat Darurat. Jarum jam begerak cepat seakan tidak mau bersabar dan memperlambat jalannya. Saya dan kakak saya Reiny serta beberapa sepupu, diantaranya Da Andri (Alfi Ziandri), Muzni Zein dan beberapa teman teman mereka memopong tubuh Ibu yang sudah lemah dari bak belakang mobil pick up Da Zein ke tempat tidur rumah sakit. Hanya beberapa Ko As (Dokter Muda) yang masih duduk duduk di kursi bagian penerimaan pasien serta perawat senior yang mengobrol sesama mereka. UGD malam itu sedang sepi, tidak ada pasien, satu satunya yang datang pukul sebelas malam itu adalah IBU saya. Pasien yang jam dua siangnya meminta pulang karena tidak mau dirawat.

Perawat muda langsung memasangkan selang oksigen ke hidung Ibu, yang lainnya juga memasangkan alat mengukur tekanan darah. Saya, Reni dan Uda Andri tidak menjauh dari ruang meski seorang Ko As meminta kami keluar dari ruangan dan mempercayaan penanganan ibu kepada mereka. Malam itu, saya tidak berpikir bahwa inilah kisah terakhir Ibu di rumah sakit M Djamil setelah beberapa kali sempat dirawat disana. Tidak ada di kepala saya sedikitpun pikiran bahwa kali ini kami akan pulang ke rumah membawa jenazah orang yang sangat kami sayangi, TIDAK, Ibu bagi kami kami adalah nyawa sekaligus masa depan. Kami tidak memiliki ayah.

Saya berdoa kepada Tuhan dan meyakinkan diri bahwa Ibu tidak terkena sakit jantung, tidak ada riwayat medis Ibu bahwa ia menderita jantung. Yang kami ketahui dan tercatat, Ibu menderita sakit kuning (hepatitis) dan sempat dua kali dirawat di RSUP M Djamil. Tapi begitu melihat Ko As dan seorang dokter memasang alat alat perekam jantung ditubuh Ibu, saya langsung gemetaran. Saya berusaha sekuat tenaga meyakinkan diri, Ibu saya tidak akan mengalami apa apa dan kami akan segera pulang.

Tapi waktu begitu keras untuk dilawan, Seorang Dokter spesialis yang biasa merawat Ibu Dr. Sayan Wongso (Alm) memerintahkan Ibu untuk diopname dan memberikan secarik resep. Resep itu segera kami bawa ke apotek Pelengkap (Apotek Resmi RSUP). Bersama Da Andri, Saya dan Reny serta Uni Baidah berjalan ke Apotek untuk menebus obat. Namun disini kesabaran dan mental kami diuji oleh petugas apotek. Harga Obat waktu itu senilai tiga puluh ribu rupiah dan malangnya tidak satupun diantara kami yang mempunyai uang sebesar itu. Da Zein yang dari tadi menunggu datang dan bertanya, kenapa lama sekali obat ditebus.

Kami lalu menjelaskan dan Da Zein kemudian mendatangi petugas jaga apotek bahwa ia bersedia menitipkan SIM dan KTPnya sampai besok pagi. Tapi petugas apotek kurang ajar itu dengan enteng menjawab, "Kami tidak memerlukan KTP apalagi SIM, kalau mau obatnya diambil tinggalkan perhiasan emas salah satu dari kalian," Situasi panik itu benar benar dimanfaatkan oleh petugas rumah sakit atas nama peraturan. Sesaat setelah itu, Da Zein langsung melampiaskan kemarahan dengan menarik kerah baju dan mencekik leher petugas, sambil membanting kunci mobilnya ke wajah si sialan itu. Akhirnya obat dapat kami ambil dengan jaminan KTP.

Selesai ???, tentu saja tidak, kami ketinggalan, Ibu sudah dipindah dari UGD ke Bangsal Penyakit Dalam, dan seperti yang saya takutkan, Ibu ditempatkan di Bangsal Isolasi (Ruang Rawat Khusus). Ketakutan saya menjadi kian nyata ketika beberapa alat medis dipasang dan Ibu tidak lagi bergerak. Dokter Sayan menghampiri saya dan meminta untuk terus mengajak Ibu berbicara dan membacakan Ummul Qur'an.

Saya memegang tangan Ibu, Dingin, kaku dan tidak merespon. Saat meminta Ibu membaca Syahadat, Ibu melakukannya - Dan - semua berakhir.

Satu tarikan nafas dalam, Ibu pergi meninggalkan kami semua. Pukul 02.10. Saya ingat betul kejadian itu. Saya tidak lagi memiliki Ibu. Ibu yang selalu saya cari ke rumah Kak Evi, saat sampai dirumah saya tidak menemukan sosoknya, Ibu yang selalu saya panggil saat saya tidak melihatnya ada di dalam kamar atau di
dalam ruang-ruang rumah kami. Ibu yang selalu saya inginkan hadir bahkan saat seperti keadaan saya sekarang ini.

Tidak ada air mata, mungkin sudah demikian adanya waktu itu, yang saya tahu, Dokter Sayan memegang bahu saya dan mengucapkan kalimat, "Sabar ya, bacakan Al Fatihah untuk Ibu,". Ya, saya membacakan Al

Fatihah, Ayat Kursi lalu kembali terdiam, bahkan saat kain panjang yang dipakai untuk menutup wajah ibu ditarikpun saya masih terdiam tak bersuara.

Pelan dari mendengar Reni menangis, Ia dipegang Da Andri yang juga ikut menangis. Da Zen mengurus semua. Saya blank, berjalan tak tentu arah, kesana kemari tapi tidak tau apa yang harus saya lakukan. Duduk tidak mau, berjalan kuat kamana saja. Itulah kami malam itu. 28 Agustus 1992. Sesampai di rumah, orang pertama yang Saya kasi tau Ibu meninggal adalah Ibuk (Ibunya Kak Evi Triana) dan Ayah serta Ima. Dua orang yang sangat dekat dengan kami. Bahkan saat kursi kursi di dalam rumah dikeluarkan untuk menempatkan jenazah diruang tengahpun, saya masih terus berjalan ke rumah Mamak di komplek GOR, lalu ke Pasar Raya memberi tau teman teman Ibu tentang kepergiannya. Barulah jam 8 pagi sesampai dirumah, temen temen sekelas saya lihat memenuhi rumah saya, ada Asrul yang menyampaikan berita ini ke sekolah. Saya masuk ke dalam memandangi Ibu yang tertidur pulas. Lalu Riky, dan Ayang.

Sesuai dengan pesan dari nenek kami, agar jenazah Ibu dibawa ke kampung, siangnya sehabis shalat Jum'at, Ibu dimakamkan di samping makam Abak. Saya - masih saja terdiam, tidak banyak bersuara. Ini nyata, tapi bagi saya ini tidak berasa sama sekali. Saya benar benar blank dan tidak tau harus bagaimana. Situasi berubah saat satu persatu tanah kuburan diturunkan, tangis saya keluar juga. Saya sadar ini benar benar nyata adanya. Mulai hari itu, tidak akan ada lagi sosok Ibu dalam hidup saya.

Bertahun-tahun berlalu, hingga hari ini tepat 20 tahun, saya selalu menginginkan Ibu kembali, merindukan Ibu yang (sungguh) tidak lama saya rasakan kasih sayangnya. Pernah suatu kali, di akun FB ini juga, saya menulis sangat ingin berada dalam pelukan Ibu, menangis, mengadukan semua keluh dan kesah serta marah, dan meminta Ibu memberikan kalimatnya.

Sungguh saya merindukan Ibu saya. Perempuan kuat, tegar dan perkasa yang pernah saya kenal. Semoga Allah mengampuni kesalahannya dan ditempatkan disisiNya. Perempuan terbaik yang setiap hari, setiap namanya melintas dipikiran saya, dalam setiap Shalat Subuh dan malam menjelang tidur saya kirimkan Ummul Qur'an kepadanya. Semoga nanti kita berkumpul kembali ya Bu.

Tulisan ini saya tulis sambil menitikkan airmata. Airmata anak lelaki yang kehilangan ibunya.

Tjikini, Agustus 2012
Boby Lukman
Tahun Baru, Postingan Baru, Lay Out Baru, Backsound Baru.

Sudah lama nggak ngeblog, sibuk berkicau di Twitter sebagai Sekjend Gank #Tancho yang mendukung pencalonan Kakanda NM dan Bijinda SB sebagai Capres dan Cawapres RI MATIGAYA 2014... 


Salam #Tancho...